HAJI MABRUR

Alkisah tersebutlah ada empat orang muslim tatkala mau berangkat haji menemui Rasulullah SAW. Mereka datang hendak memohon nasehat, bekal apa gerangan yang harus mereka siapkan menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Satu orang merasa lega karena merasa sudah mempersiapkan dirinya dengan menjual harta untuk bisa berangkat haji. Ia sanggup menunda pemenuhan kebutuhan yang lain. Satu orang lagi meyakinkan diri sendiri bahwa sepenunya dia merasa siap pergi haji tahun ini. Ia juga sudah lama menghapal semua amalan untuk beribadah haji. Semua dilakukan dengan penuh kesungguhan. Satu orang lagi merasa terpanggil dengan seruan Nabi Ibrahim. Karena kedudukan dan wibawanya mengharuskan ia pergi haji. Sebagai seorang tokoh di masyarakat, ia merasa wajib membuktikan di depan anggota masyarakat bahwa ia tidak saying harta dan waktu kalau semua itu demi ibadah. Tapi satu orang yang dari tadi diam merenung seraya bermunajat karena bekal uang yang ia siapkan lama, menjelang berangkat haji ini dipinjam oleh tetangga yang kena musibah.

Karena itu yaa Rasulullah kami mohon nasehat, bekal apa yang harus kami siapkan dengan kondisi kami seperti ini?” Berangkatlah haji dengan bekal taqwa, seru Rasulullah. Akhirnya berangkatlah mereka ke tanah suci kecuali muslim terakhir, karena bisikan taqwanya ia merelakan uangnya dipinjam oleh tetangganya yang terkena musibah.

Usai beribadah haji, merekapun menceritakan kembali kepada Rasulullah tentang cobaan dan godaan yang mereka dapat selama perjalanan dan setelah sampai disana. Merekapun ingin tahu pendapat Rasulullah, siapa diantara mereka hajinya paling mabrur. Jawaban Rasullah sungguh diluar dugaan. Rasulullah hanya menunjuk kea rah muslim yang tidak jadi berangkat haji. Dia hanya diam saja ketika teman-temannya berkisah seputar haji mereka, sedangkan dia hanya diam membisu tak tahu apa yang harus dikisahkan. Tetapi dengan bekal taqwa, ia betul-betul mengatasi dirinya dari cobaan dan godaan keinginannya untuk berangkat haji. Dia telah berhaji dengan pelaksanaan semua amalan haji dengan diwakili malaikat.

2 Responses to “HAJI MABRUR”

  1. tri diana Says:

    maaf sebelumnya mau tanya, mba elfrida sebelumnya sudah berhaji??
    yang mau sy tanyakan, apa ia bener selama qt naik haji itu pasti balasan slama qt berada didunia akan mendapatkan balasan disana???

    • elfrieda Says:

      Syukur alhamdulillah saya pernah sekali ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Itu juga berkat Allah semata, gak ada persiapan biaya sama sekali koq kayak orang2 yang ingin berangkat haji seperti sekarang2 ini, misal menyetor uang setiap bulan ke bank tertentu untuk tabungan haji dan lagi harus pake antrian haji segala. Makanya dari kejadian itu, saya yakin kalo kita punya keinginan dari dalam hati yang paling dalam walau belum punya kemampuan saat itu, teruslah berdoa dengan keyakinan penuh dan ketulusan hati, insyaallah suatu saat impian kita akan tercapai di waktu yang tepat yang Allah pilihkan buat kita.

      Kilas balik, saya dulu semasa kecil sekitar kelas 2 SD memang ada keinginan betul untuk pergi ke tanah suci, ngeliat orang sholat Tarawih di Mesjidil Haram, bacaan Qur`an oleh imamnya yang merdu bikin hati pengen kesana betul tapi saya dulu sadar diri tapi walaupun begitu, saya tetep berdoa sampe gede. Yaa syukur alhamdulillah di usia saya 20 taon, rezeki dari tempat yang nggak dikira2pun datang, makanya saya bisa mengejar impian saya.

      Selama berhaji, memang ada peringatan dan pembelajaran Allah secara langsung. Yang saya yakini adalah bila kita berbicara dan berbuat banyak menyakiti hati orang, banyak melukai hati orang, yaa biasanya ketika kita ke tanah suci suka ada balasannya. Tapi kalau yang namanya kita bercanda sama temen, nggak sampe melukai hatinya, sejauh itu gak ada masalah koq. Semisal mb Tri-nya mo berangkat haji, ada baiknya mba Tri sholat Taubat dulu sebelum memulai perjalanan ke tanah suci. Saya juga dulu sebelum berangkat sholat Taubat dulu, mana tau ada salah2 ato perbuatan kita yang tanpa sengaja menyakiti hati orang lain. Tapi di sana, kita memang dituntut untuk tidak berkata sembarangan karena memang langsung kejadian saat itu juga. Soalnya ada sebuah kejadian, ada seorang jama`ah haji berkata, “iihh, di tanah suci gersang buanget, gak ada ijo2nya kayak di kampungnya banyak sawah.”ee…tau2 pas dia ke Mesjidil Haram, dia heran koq banyak sawah di dalem mesjid. Jadi begitu mba Tri, banyak hal2 yang gak bisa kita reka dengan logika kita segala kejadian di sana

      Makanya kenapa di Islam diajarkan kalau bercanda sama siapapun jangan kelewatan, jangan mengeluarkan kata2 yang dapat menyinggung orang tsb secara gak sengaja, dan kalo berbicara ato bercanda jangan mengeluarkan kata2 sembarangan. Islam ada aturannya semua sayang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: