Kisah Nyata Seorang Teman…

Kebetulan Ayah saya adalah kepala Laboratorium Klinik Perusahaan Migas dan Kepala Bagian X Ray (pensiun 2007 ini) dan untuk sekota kecil Balikpapan..banyak kolega kolega dokter dan rumahsakit yang senior (bukan tenaga baru) yang mengenal baik

Pada tahun 1990 saya terkena radang sinusitis dan dioperasi THT kemudian kambuh dua tahun kemudian 1992 dan dioperasi kembali
saat dioperasi tahun 1992, ibu saya cerita setelah dioperasi bahwa ketika operasi berjalan tiba tiba ibu dan ayah saya yang sedang menunggu disodori surat pernyataan bahwa harus dioperasi Amandel. Kontan ayah saya bilang operasi itu tidak perlu dilakukan karena kondisi amandel masih bagus dan biasa amandel agak membesar kalo kondisi kurang fit. Sempat bersitegang sih, tapi akhirnya dokter itu mengalah. Mungkin seandainya keluarga saya bukan dari kalangan Medical …itu amandel pasti dibuang sama dokternya atas persetujuan orang tua. Rata rata, anak anak karyawan pertamina di Balikpapan amandelnya habis karena dokternya yang kuat di Balikpapan adalah dokter dokter dikenal yang ”radikal” (sedikit saja amandelnya kumat misalnya langsung buang). Ada sih dokter yang tidak main radikal (sedikit sedikit operasi) tapi tidak lama di balikpapan (bisa jadi akibat persaingan antar kolega)

Kemudian kalo setiak konsultasi ke dokter praktek misalnya ..tiap malam selalu ada medrep yang hadir..biasa langsung menawarkan barang baru, kemudian di dunia medrep biasanya persaingan sangat terasa saling jegalnya. Akibatnya pasien memang jadi kelinci percobaan obat obat baru yang nggak perlu. Pengalaman ini saya alami waktu berobat dan waktu pulang ditanya dikasih resep apa, saya tunjukkan aja resepnya yang menggunakan tulisan steno itu dan ayah saya langsung ambil bolpen dan mencoret beberapa obat yang nggak perlu (dari 6 jenis obat 5 dicoret dan beliau bilang satu ini saja cukup), waktu itu sih saya masih ikut tunjangan kesehatan perusahaan (s/d umur 25 tahun), bisa dibayangkan bagaimana mahalnya kalo membeli obat sendiri.

Kalo mau sedikit cari info sih sebenarnya Indonesia lebih liberal dalam soal obat, bisa ribuan jenis obat beredar sementara di negara maju paling nggak sampai separohnya…lebih lebih lagi kasus dalam dunia kedokteran di Indonesia memang tidak pernah sampai ke pengadilan, sulit kata ayah saya juga disamping memang kurangnya tenaga ahli di dalam kalangan aparat penegak hukum dan sulitnya mencari saksi ahli sebagai pembanding (banyak pameo yang mengatakan bahwa sesama kolega tidak boleh saling menjatuhkan)

Trus mungkin sebagai tip juga bahwa kalo misalnya berurusan dengan satu dokter sebaiknya kalo bisa jangan berganti dengan dokter lain, kecuali kalo memang kenalan baik atau rekomendasi dari bagian kesehatan instansi karena kalo ada apa apa susah melacaknya atau menyusuri perlakuan penanganannya.

Sumber: Mirage III CZ

One Response to “Kisah Nyata Seorang Teman…”

  1. motivasi bisnis Says:

    Hey There. I found your blog using msn. This is a very well written article.
    I’ll be sure to bookmark it and come back to read more of your useful info.
    Thanks for the post. I will certainly comeback.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: