Sekilas Tentang Jepang

Jepang sebagai salah satu negri yang maju memiliki sistem publik yang teratur dan benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Kehidupan ekonomi rakyatnya bisa dibilang merata. Kalaupun ada yang kaya katakanlah begitu, tetap perbedaannya gak sedrastis kalo di tanah air. Di sini yang punya kendaraan roda empat memberi kesempatan jalan kepada yang beroda dua. Umumnya di Jepang ini mayoritas penduduknya lebih menyukai berkendaraan dengan sepeda. Mental orang Jepang memang tidak dididik untuk minder karena keberadaan diri harus bersepeda ria.

Di negri ini pula, orang bebas melakukan apa aja yang mereka mau selagi hal itu tidak merugikan orang lain ato menyangkut kepentingan khalayak umum. Mau ciuman ato pelukan di depan umum, mau mabok ato ngoceh sendiri kayak orang gila sekalipun tak jadi soal, di sini manusia-manusianya sibuk sendiri-sendiri. Jangan membayangkan bakal ada pandangan aneh, sinis, dan keluar kata-kata yang gak sedap melihat pemandangan yang ada di sekitar. Dalam etika berpakaianpun gak ada aturan baku, semua bisa jadi fesyen, mau si cowok pake tas ala cewek sekalipun, itu dikatakan fesyen, mau pake pakaian norak sekalipun tetep jatuhnya fesyen. Jangan berharap orang-orang disini akan keluar omongan-omongan miring ngeliat cara berpakaian orang-orang di sekitarnya.

Adapun sedari kecil memang orang Jepang diajarkan untuk menerima segala perbedaan yang ada. Ketika anak-anak melihat ada orang gila ato orang cacat yang lewat di depan mereka, tidak akan kita dapati anak-anak tersebut mengolok-olok orang gila ato orang cacat tersebut. Orang-orang Jepang memang dibiasakan sedari kecil diajari untuk tidak merugikan orang lain. Walo si anak masih kecil sekalipun akan dicegah ato dimarahi oleh orangtuanya bila merugikan orang lain. Praktek-pratek semacam ini dan sikap saling menghormati banyak kita temui di Jepang. Berbeda kalo di tanah air, anak-anak kecil dianggap orangtuanya masih kecil sehingga dibiarin mengganggu kepentingan orang lain. Contoh kecilnya, ketika sedang bertamu ke rumah orang lain, biasanya si orangtua membiarkan anaknya yang masih kecil membanting remote ato memukul tv kepunyaan tuan rumah karena si orangtua menganggap anaknya belum mengerti padahal yang benar adalah si orangtua harus mencegah dan menjaga anaknya tidak melakukan hal tersebut.

Bila seorang pejalan kaki menghalangi jalan orang yang bersepeda, akan kita dapati antara si pejalan kaki dan si pengendara sepeda akan sama-sama mengucapkan kata “sumimasen ato gomen” yang artinya ”maaf”, bagaimana kedua belah pihak saling menghormati satu sama lain.  Adapun bila kita mengalami suatu kesulitan dan kita meminta bantuan, pada umumnya orang Jepang membantu gak tanggung-tanggung. Terus terang selama saya hidup di Jepang banyak kemudahan-kemudahan yang saya peroleh. Disini orang-orangnya mo bantu siapa aja, gak memandang apakah dia tua ato muda, penduduk asli atopun orang asing, cakep ato jelek dan orang yang gak beruntung sekalipun mendapat tempat di negri ini.

Kebetulan tempat tinggal saya berdekatan dengan rumah sakit jiwa, yang stress dan gila numplek di sana. Dalam bayangan saya, orang-orang yang stress dan gila tersebut pasti dikurung seperti gambaran umum di tanah air. Kadang kala saya ngeliat orang-orang yang gila dan stress itu disuruh marathon (jalan pagi), kadang saya liat suka diajak berjalan-jalan dan melakukan aktivitas orang sehat lainnya. Ternyata mereka gak dianggap orang stress ato gila, mereka diperlakukan secara manusiawi dan sebagai orang yang sehat.

Jepang boleh dikatakan negri yang aman buat ditinggali para keluarga. Bagaimana tidak, akses-akses publiknya betul-betul menunjang kepentingan keluarga. Bagaimana pemerintah memudahkan penggunaan asuransi kesehatan bagi semua masyarakatnya. Semua masyarakat mempunyai asuransi kesehatan, apakah dia seorang pegawai negri ataukah dia seorang pegawai swasta, siapapun dia bisa memiliki asuransi kesehatan. Asuransi tersebut bisa digunakan di mana aja, apakah mau digunakan di pelayanan kesehatan negri maupun swasta. Negri ini memang betul-betul memikirkan derajat kesehatan seluruh masyarakatnya. Gak akan kita temui orang pemakai asuransi kesehatan akan diberikan perlakuan di bawah standar kesehatan karena dianggap tidak mampu. Anggapan-anggapan sinis semacam itu gak ada di Jepang. Masyarakatnya tidak menganggap rumah sakit ato pelayanan kesehatan lainnya sebagai momok menakutkan. Semua masyarakat mencintai pentingnya hidup sehat dan menjaga kesehatannya dan bila mereka sakit, mereka gak akan takut ke rumah sakit dikarenakan kepentok masalah biaya. Semua masyarakat mendapat perlakuan yang sama, apakah dia kaya ato miskin, apakah dia orang asing ato penduduk asli, semua mendapat perlakuan yang sama. Adanya kebijakan biaya  di pelayanan kesehatan negri maupun swasta tidak jauh berbeda dan kebijakan harga obat antara apotek negri maupun swasta bisa dikatakan sama ato tidak jauh berbeda. Tak akan kita temui pihak swasta mencari untung sebesar-besarnya dengan meningkatkan harga obat.

Kalau anda tinggal di Jepang, anda akan melihat setiap ruas jalan untuk umum akan ditemui jalan khusus buat penyandang cacat penglihatan (buta). Di setiap traffic light dilengkapi tombol yang bisa dipencet para penyadang cacat. Hal ini menggambarkan bagaimana pemerintah Jepang betul-betul memperhatikan nasib penyandang cacat. Di setiap jalan yang ada di Jepang akan ada ruas-ruas jalan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda, hal ini meminimalkan resiko kecelakaan terjadi. Setiap tempat, apakah ibukota ato daerah sekalipun selalu dilengkapi taman-taman yang memungkinkan sebuah keluarga bermain-main di sana sehingga kemana aja kita pergi, akan kita temui taman-taman kota yang bersih dan tertata rapi. Negri ini sangat memperhatikan betul penghijauan dan mencegah berbagai macam polusi. Terus terang, selama saya tinggal di sini, tentu merasa aman membawa bayi keluar karena kendaraan roda empat tidak mengeluarkan asap kendaraan. Asikk bukan…semua aman dan terjamin.

Mental orang Jepang saya acungin jempol, mental penyabar dan mau ngantri. Orang Jepang pada umumnya mau ngantri untuk makanan yang dianggapnya enak. Pada dasarnya orang Jepang memang suka mencoba-coba makanan dan kalau saya perhatikan mereka suka segala macam makanan laut seperti gurita, kepiting, udang, berbagai ikan dll. Selain itu, mereka juga suka makan sayuran segar ato ikan dan udang segar yang dibuat “sushi”. Adapun dalam mengolah makanan lebih banyak dalam bentuk rebusan ato panggang, jarang sekali digoreng karena pada umumnya orang Jepang menjaga sekali kesehatannya selain mereka juga suka berolahraga. Maka tak heran orang-orang tua Jepang dibilang “sakti-sakti”, walopun mereka sudah berusia lanjut tapi mereka masih kuat jalan dan melakukan aktivitas lainnya.

Mental orang Jepang lainnya adalah jujur dan tidak suka mengambil barang yang bukan haknya. Saya pernah membuktikannya sendiri, barang ditaruh di mana aja gak bakal hilang, kalaupun hilang bearti yang mengambilnya orang asing. Dan sayapun pernah membeli barang yang ternyata barang tersebut ada cacatnya, si penjual serta merta memberitahukan bahwa barang yang akan saya beli ada cacatnya dan si penjualpun menawarkan barang yang lain dan menanyakan keseriusan saya membeli barang tersebut. Seandainya saya serius membeli barang cacat tersebut, si penjual akan memberikan potongan harga. Kalau ingin berdagang yang jujur, belajarlah cara berdagangnya orang Jepang. Persaingan dagang mereka dikatakan persaingan sportif, jadi tak masalah buat mereka bila banyak didirikan toko-toko yang menjual barang yang sama.

Adapun dalam hal membayar harga barang yang kita beli, biasanya si penjual menyebutkan secara jelas harga barang yang tercantum dan akan mengembalikan sisa uang secara utuh, tak ada istilah kurang ato ganti permen karena tak ada kembalian. Antara penjual dan pembeli sama-sama diuntungkan dan merasa puas.

Dengan tekhnologi tinggi yang dimiliki negri ini tentu saja memudahkan segala urusan. Pemerintah tak perlu menyiapkan petugas penjaga untuk melihat apakah ada kecurangan-kecurangan di setiap tempat karena setiap tempat umum kecuali toilet dan kamar ganti dipasang kamera. Kalaupun ada pos-pos polisi yang dilengkapi dengan kendaraan bebek taon 70-an, itu hanyalah sebagai fungsi kontrol aja. Beli minuman ada vending mesin, beli tiket apapun dikelola oleh mesin-mesin pencetak tiket, keluar masuk stasiunpun dicek oleh mesin-mesin tiket, bila tiket yang kita beli tidak sesuai harga dengan tempat pemberhentian kita, tentunya kita tak bisa melewati pintu keluar, kita harus membayar kekurangannya dulu untuk bisa keluar. Jadi, untuk orang-orang yang suka mencari kesempatan untuk gak jujur, gak akan pernah nyaman tinggal di Jepang ^-^

Bila kita mengunjungi pelayanan publik di Jepang, gak akan kita temui orang berleha-leha dan ongkang-ongkang kaki, semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sistem kerja di Jepang sifatnya merangkap, jadi semua yang bekerja harus bisa dan menguasai semua hal. Suatu kali saya pernah datang ke kecamatan setempat mengurus KTP, semua sibuk dan tidak satupun saya lihat baca-baca koran ato majalah dan bila ada yang datang, mereka langsung antusias menanyakan keperluan kita dan bila ada masalah yang timbul, mereka berusaha membantu menyelesaikanya, tak ada istilah “maaf, saya sedang sibuk ato pura-pura tidak tau”, mereka betul-betul mengabdi terhadap pekerjaan yang mereka jalani. Beda sekali kalo dibandingin dengan pelayanan publik di tanah air, sesama pegawai bisa bercanda ria, ada yang sambil baca koran ato majalah, kalo ada yang datang  bawaannya santai dan gak antusias, semisal yang datang gak bilang apa-apa, sampe taon depan gak bakal ditanyain petugas di tempat, yaa pokoknya jeleklah pelayanan publik di tanah air, gak hanya sistemnya yang jelek tapi juga mental orang-orangnya walaupun gak semuanya.

Ketika saya mengurus KTP di kecamatan Fuchu, Tokyo, waktu itu saya melihat seorang kakek sedang duduk dan tidak mendatangi petugas untuk menanyakan keperluannya, dia hanya diam dan sepertinya kebingungan. Tanpa saya sangka-sangka, ada petugas yang menghampiri si kakek dan berkata dengan lembut sambil menjongkok menghadap si kakek, serta merta mereka mengerti apa yang sebetulnya diinginkan oleh si kakek. Betul-betul mereka menghormati siapa aja yang datang…

Pernah suatu kali saya mengajak anak saya yang berusia 9 bulan ke supermarket. Tanpa sepengetahuan saya, kakinya menendang buah tomat sehingga tomat-tomat itu berhamburan. Dalam bayangan saya waktu itu adalah saya harus membayar semua tomat-tomat yang hancur, ternyata petugasnya bilang “tidak apa-apa” walopun saya sudah bilang berkali-kali bahwa saya akan membayar semua tomat yang rusak.

Di waktu yang lain pula, saya pernah menanyakan ke petugas supermarket dimana tempat kunyit. Terus terang, saya tak bisa bahasa Jepang sehingga yang jadi andalan saya adalah bahasa Inggris. Tentu saja, umumnya orang Jepang tak bisa bahasa Inggris tapi si petugas berusaha semaksimal mungkin mengerti apa maunya saya. Pada akhirnya, si petugas minta saya menunggu sebentar dan diapun memanggil temannya yang bisa bahasa Inggris dan masalahpun terselesaikan. Jangan dibayangkan jumlah petugas supermarketnya banyak dan bukan karena mereka punya cukup waktu untuk mengurusi konsumen melainkan bagaimana mereka memuaskan konsumen. Di Jepang jumlah petugas yang berkerja tidak banyak, Jepang mengutamakan jumlah pekerja se-efektif dan se-efisien mungkin sesuai kebutuhan dan pekerjaannyapun sifatnya lagi-lagi merangkap. Itulah Jepang…

Ternyata baru saya tau bahwa setiap pasien di rumah sakit manapun tidak diwajibkan harus membayar biaya rumah sakit saat itu juga. Ada keringanan-keringanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit tergantung kemampuan pasien. Begitu juga dalam hal ngambil uang di bank, tidak ada istilah dipotong. Dalam penggunaan kartu kreditpun, tidak ada istilahnya nasabah dikenai bunga bila terlambat bayar. Biasanya nasabah ditelpon untuk diberikan peringatan, bila tidak ada tanggapan kartu kreditnya diblokir, hanya itu…gak ada istilah diteror ato sejenisnya. Dalam pengurusan kartu kreditpun tidak perlu mengecek apakah dia orang kaya ato miskin tapi cuma disesuaikan jumlah uang yang bisa dicashing disesuaikan dengan kemampuan. Saya bisa punya kartu kredit walaupun saya seorang ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan apa-apa. Lagi-lagi sangat berbeda sekali dengan negri kita sendiri…

Di Jepang, pekerjaan bertani dianggap sama baiknya dengan pekerjaan lainnya. Orang Jepang malah bangga bila harus berprofesi sebagai petani, begitu juga anak-anaknya gak merasa harus malu memiliki orang tua sebagai petani, bahkan umumnya orang Jepang kalo ditanya setelah pensiun mau jadi apa, jawabannya justru pengen jadi petani. Para petani di negri ini berkembang dengan maju karena sistem yang bagus dan tingkat tekhnologi yang canggih. Umumnya setiap petani memiliki mesin-mesin bertekhnologi yang memudahkan pekerjaan mereka. Jangan dibayangkan petani di Jepang ini seperti petani di tanah air yang dekil, jorok, dan keliatan kayak orang susah.

Meskipun tingkat keamanan tinggi di negri ini tapi saya tetap waspada. Mengapa demikian?? karena di negri ini mayoritas penduduknya tidak beragama mengakibatkan banyaknya orang-orang Jepang yang stress jadi sepatutnya kita jangan terlena begitu saja. Menyebrang jalanpun harus tengok kanan-kiri walopun sudah pasti semua kendaraan akan berhenti bila lampu hijau untuk pejalan kaki sudah menyala. Dan harus diingat pula, yang tinggal di Jepang ini tidak hanya orang Jepang saja tapi juga orang-orang dari berbagai negara yang menjadikan berbagai macam bentuk sikap mental. Jadi yaa harus tetap berhati-hati dan patut diingat pula orang Jepang tetaplah manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang rajin dan ada yang malas tapi pada umumnya sifat dasarnya “Tak mudah akrab dengan orang yang baru dikenal dan lebih jawa dari orang jawa”. Ini menurut saya lhoo, mungkin anda-anda yang pernah tinggal di Jepang dan lebih mengetahui seluk beluk tentang Jepang punya pendapat yang berbeda. Silakan saja bila ada yang mau menambahkan…

Salam Persahabatan dan Persodaraan Selalu…

18 Responses to “Sekilas Tentang Jepang”

  1. abal Says:

    mba bisa minta info tentang rumah sakit yang ada di jepang ga??
    1. apa aja (yang standard bukan yg international atau yg kecil bgt) atau yg deket dengan tempat tinggal mba…
    2. kehidupan disana bagaimana

    • elfrieda Says:

      Sebelumnya salam kenal buat mas Abal-nya…

      Yang saya tau sih, semua rumah sakit di Jepang masing2 punya fasilitas yang memadai dan itu betul2 diperhatikan baik oleh pemerintah Jepangnya maupun oleh pihak rumah sakit. Tak akan kita temui rumah sakit yang kecil buanget kayak di Indonesia atopun rumah sakit yang fasilitasnya katakanlah kacau kayak di Indonesia. Jarang pula kita temui istilah kata “Mal Praktek” kayak di Indonesia karena rumah sakit di Jepang betul-betul melaksanakan pelayanan kefarmasian, tak mudah mendiagnosa penyakit dan tak gampang memberi obat ke pasien.

      Rumah sakit di Jepang ada dua juga swasta dan negri tapi walopun statusnya berbeda tetap aja pasien bila berobat, biaya tetap dicover oleh asuransi. Semua masyarakat Jepang tidak terkecuali, mau kerja ato nggak, mau pegawai ato ibu rmh tangga, mau orang Jepang ato orang asing tetap dapet asuransi dan tunjangan. jadi terus terang cukup enak dan sejahteralah tinggal di Jepang karena pemerintah Jepang betul-betul memperhatikan kesejahteraan.

      Dulu saya tinggal di daerah Asahi-Cho, Fuchu-Shi masuk daerah Tokyo Barat. Jadi rumah sakit yang dekat tempat saya ada dua yaitu rumah sakit Musashi Koganei (swasta) dan rumah sakit Fuchu (negri). Baik rumah sakit negri atopun swasta tak ada perbedaan dalam hal fasilitas, semuanya memadai dan bisa dipertanggungjawabkanlah.

      Untuk hidup di Jepang terus terang enak sih apalagi kalo kita sudah berkeluarga. Kenapa saya katakan begitu…saya sedikit bercerita nie ke mas Abal-nya. Dulu saya awal-awal menikah langsung menyusul suami ke Jepang sampai saya melahirkan anak di Jepang. Dulu saya gak punya gambaran melahirkan seperti apa di negri orang yang mana saya gak ngerti bahasanya dan gak kebayang juga harus ngurus bayi tanpa ada orangtua yang ngajarin dan nemenin. Ternyata di Jepang banyak kemudahan yang saya dapet. Semua perawat rumah sakit berusaha keras agar saya mengerti maxudnya dengan bahasa tubuh yang diperagakan. Agar tidak terjadi kesalahan minum obat, setiap jam minum obat mereka datang memberikan obat berbeda dengan perlakuan mereka terhadap orang Jepangyang obatnya diberikan semua dengan penjelasan waktu minum untuk masing2 obat. Karena saya orang asing, pihak rumah sakit mengirim perawat yang bisa bhs inggris tuk melayani saya. Pokoknya kalo saya ceritain gak selese2 mas…pokoknya enaklah tinggal di sana bersih dan teratur, gak perlu takut bawa bayi jalan2 karena gak ada asap kendaraan, gak akan kita temui paku ato sampah lainnya di jalan karena masyarakat Jepang sadar betul di mana harus buang sampah, sampai2 kalo orang Jepang bawa anjingnya berjalan2, mereka selalu bawa kantong untuk menampung kotoran anjing. Enaknya orang Jepang nggak rasis, mereka memang diajarkan sedari kecil untuk memandang semua manusia adalah sama. Jadi tak ada tatapan sinis ato cemooh kepada orang stres, orang gila, tukang bersih2, orang jelek sekalipun, orang norak sekalipun dll jadi enaklah cuek beibe…Satu yang jadi ganjalan saya tinggal di sana adalah saya hampir gak pernah denger azan dan agak susah mencari makanan halal, itu aja sihhh selebihnya te-o-pe bgt-lahh

  2. rinjari Says:

    salam kenal ya mba…
    jepang… satu negara yang bener2 ingin aku kunjungi
    aku tertarik dengan culture & masyarakatnya… ;)
    tapi kapan ya?

    • elfrieda Says:

      lam kenal jugaa…asalkan dirimu punya impian, pasti suatu saat bisa ke jepun jugaa say
      yakiiinnn aja…aku juga begituuu koqq…

  3. Nia Says:

    Salam kenal mba,
    wah…tulsan d atas, lngsng mnggambarkn bgt suasana’a.
    Bhkan ky udh trasa, huh..

    Btw, mba bsa k jpng gmna?
    Trus nikah sma nihonjin lg.

    Sy jg pny tman, d daerah prefktur ibaraki, tpat’a d takahagi.
    Dlu.. Pas prtma kali knal, orng’a cuek+acuh, tp mkin ksni mkin trbka orng’a. Bhkan, sudah s-thun ini g prnah hlang connect.

    Dr dlu, impian sy bsa study dsna, pkok’a sy ingn mngnjakkan kaki& hdup dsna. He..

    Mba. . Tlong crta lg, tntang pngalman mba dsna ya. . .

    • elfrieda Says:

      Salam kenal juga Nia…saya tetep nikahnya sama pria Indonesia punya sayang…gini2 saya masih cinta produk lokal he…he…
      Banyak cara sihh Nia bisa ke Jepang antara lain Nia bisa daftar berbagai beasiswa ke Jepang kalo memang mo studi disana. Nia bisa liat di internet berbagai beasiswa itu (klik aja di”google cari beasiswa Jepang) tapi harus diingat pula beasiswa itu ada tipe2nya, ada yang beasiswanya cuma nanggung alias gratis biaya sekolah/ kuliah tapi biaya hidup disana kita tanggung sendiri tapi Nia gak usah kuatir, di sana Nia bisa kerja partime asal Nia bisa menguasai bahasa Jepang. Ada juga dikasih sekian uangnya, kita sendiri yang ngatur buat biaya hidup (makan, listrik, air, tempat tinggal dll) sama biaya sekolah/ kuliah. Nah, kalo suami saya beasiswanya “Mombukagasho” jadi duit dapet buat hidup di sana tapi kuliah gak bayar alias gratis. Dan enaknya di Jepang itu, kampus menyediakan fasilitas mesin fotokopi dan printer yang bisa digunakan mahasiswa secara gratis dan dalam jumlah berapapun, di sini kita mengoperasikan mesinnya sendiri dengan mengikuti petunjuk yang ada.

      Berhubung di Jepang biaya hidup dan biaya sekolahnya mahal serta harus berjuang kalo mo dapetin uang, yaa harus disiapkan materi dan mentalnya sayang…yang jelas harus menguasai bahasa Jepang minimal untuk percakapan sehari2 di sana biar lebih mudah untuk hidup disana. Saya bisa ke Jepang dengan status ibu rumahtangga alias ikut suami studi. Ini bisa jadi alternatif Nia biar bisa ke Jepang, yaituu cari suami yang pas kebetulan mo kerja ato studi ke Jepang tapi lagi2 peluang ini rada susah, yaa jodoh khann gak bisa ditebak non…

      Rata2 yang nikah sama nihonjin itu pas kebetulan si perempuannya studi di Jepang, yaa kenal sama mahasiswa nihonjin selama studi. Ada juga yang dapet nihonjin itu pas kebetulan nihonjin kebetulan kerja dalam jangka waktu tertentu di Indonesia. Bisa juga kenal2 lewat temen ato cathing diinternet.

      Kebetulan saya nyusul suami 3 bulan berikutnya setelah suami ke Jepang karena suami saya juga perlu memprediksi apakah beasiswanya bisa cukup untuk bawa keluarga ke Jepang ato nggak. Berhubung bisa “cukup” suami pede ajak saya, waktu itu saya lagi hamil 6 bulan. Tanpa persiapan bahasa Jepang saya berangkat sendiri naek pesawat ke Jepang, suami hanya menunggu di bandara Narita. Sebelum berangkat banyak hal yang harus diurus, antara lain suami harus ngurus surat menyurat sebagai penjamin saya nantinya di Jepang dan untuk pengurusan tiket saya nantinya karena saya nantinya statusnya menetap. Baru nanti surat menyurat yang udah diurus suami di Jepang dikirim ke Indonesia, dengan itu saya bisa urus pasport, visa dan tiket (bukan tiket buat turis).

      Sesampai di Jepang, yaa tetep harus ngurus surat menyurat lagi. Saya harus ngurus KTP, askes, buku tabungan, daftar rumah sakit buat ngelahirin. yaa tetep harus didampingi suami karena saya sama sekali gak ngerti bahasanya. Karena saya gak nguasain bahasa Jepang, ada kejadian diluar dugaan ketika saya sampe di bandara Narita. Ketika ada pemeriksaan visa, ada satu form yang harus saya isi waktu itu. Berhubung saya gak ngerti bahasa Jepang dan si nihonjin-nya ga ngerti bahasa Inggris yang saya ucapkan jadinya gak nyambung. Terpaksa saya belom bisa keluar dari bandara. Untungnya waktu itu banyak orang Indonesia yang menjadi TKI di sana jadi problem saya terselesaikan tapi saya saluuut betul dengan pelayanan publik di Jepang bagaimana petugas imigrasi berusaha membuat saya mengerti akan maksudnya dengan bahasa isyarat.

      Ketika ngurus KTP, kita datang ke kantornya tanpa kita tanya petugasnya sudah menanyakan kita terlebih dahulu adapun tujuan kita datang ke kantor tsb. Pokoknya pelayanan publik di setiap tempat bagus betul, beda sekali dengan di Indonesia. kalo kita gak tanya petugasnya cuek aja, ditanyapun kadang dijutekin. Waktu ngurus KTP, saya sempet liat ada orangtua pake tongkat datang, cuma duduk aja gak ngomong apa2. Tiba-tiba ada satu petugas menghampiri sambil duduk jongkok disamping kursi Pak Tua sambil menanyakan tujuan si Pak Tua. Cobaaa bayangin ada petugas seperti itu…

      Yang asiknya di Jepang, setiap masyarakatnya, mau orang Jepang atopun orang asing tetep dapet askes, ada KTP, yaa ada askes. Bandingin di Indonesia, hanya statusnya PNS aja yang dapet askes. Udah gitu kalo mo ngurus kepemilikan HP harus ngurus buku tabungan dulu karena nanti pembayaran biaya telpon secara online, dan sangat mudah sekali untuk memiliki HP, tinggal pilih mau yang gratis (HP standar) ato beli dengan bayar kredit. Pokoknya segala urusan jadi simpel dan mudah, gak seribet kalo ngurus apa2 di Indonesia. Sayapun bisa memiliki kartu kredit padahal saya statusnya hanya ibu rumah tangga. Adapun pembayaran pajak disesuaikan status kita mahasiswa ato bekerja dan bekerjapun disesuaikan dengan gajinya. Nia gak usah kuatir hidup di Jepang, karena segala kemudahan bisa diproleh. Justru status mahasiswa dianggap masih butuh bantuan dari pemerintah.

      kalau kita berobat ke klinik, baik itu milik swasta ato negri, askes bisa digunakan. Kita hanya membayar 20%, 80%-nya kecamatan tempat tinggal kita yang menanggungnya. Adapun kalo kita berobat ato opname di rumah sakit walaupun gak ada duit, gak perlu kuatir, bakal diterima koq di rumah sakit. Urusan diawal ketika pasien masuk rumah sakit adalah bagaimana pasien bisa ditolong, urusan duit belakangan. Setelah kita pulang baru mulai pembayaran, bila tak ada duitnya pasien tetep diperbolehkan pulang dan pembayaran bisa dilakukan sesudahnya, bisa cash ato angsur. Pokoknya banyak deee kelebihan tinggal di Jepang

      Segitu duluuu yaaa ceritanya, tar kapan2 disambung lagi…

  4. sheeva Says:

    hallo mbak…
    makasih atas info menariknya
    saya bnr2 ingin ke jpg suatu saat nanti
    ada yg ma saya tanya nih mbak, gmn sih pelayan rumah sakit di jepang khususnya almbulance?

    • elfrieda Says:

      Hallo juga say…saya doakan lhoo semoga suatu saat dirimu bisa ke Jepang. Asalkan berdoa dan berusaha, impianmu suatu saat bisa tercapai

      Untuk masalah ambulan, setauku sih kalo untuk masalah darurat kayak kecelakaan, bisa langsung telpon kantor emergency pusat Jepang. Kalo hamil sih, aku juga kurang tau say karena biasanya ibu-ibu di Jepang datang sendiri secara mandiri ke rumah sakit buat melahirkan.

  5. panji Says:

    salam kenal mba.
    mau tanya nih, kalo kerja di jepang itu make visa apa ya. katanya si cuma bisa make visa kerja ya? trus cara dapetinnya gmana?
    makasih… :D

    • elfrieda Says:

      salam kenal juga mas Panji…
      Kalo kerja di Jepang formilnya sihh harus pake visa kerja. Jadi sebelumnya sudah ketauan dulu keterima kerja di Jepang karena tempat mas Panji kerja nantinya akan dijadikan penjamin agar visa mas bisa keluar. Pihak kedutaan besar Jepang yang ada di Indonesia tidak akan mengeluarkan visa kerja mas kalo mas belom ada kepastian kerja di Jepang kecuali mas punya teman ato keluarga yang tinggal di Jepang, mereka bisa jadi penjaminnya sehingga mas bisa dapatkan visa tinggal di Jepang. Kalo mas udah punya visa tinggal, bisa ngelamar2 kerja di Jepang, itu juga kalo mas punya teman ato keluarga yang tinggal di Jepang.

      Kalo mas nggak punya kedua penjamin itu yaitu mas sudah ketauan diterima kerja di Jepang dan punya teman ato keluarga yang tinggal di Jepang. Pihak kedutaan Jepang di Indonesia tidak akan mengeluarkan visa mas alias visa mas tidak lolos. visa akan lolos bisa pengajuannya berupa visa turis yang ada jangka waktunya misalnya kita mo jadi turis di Jepang selama berapa lama. Patut digarisbawahi dengan visa turis mas gak bisa ngelamar kerja di Jepang

      Oke mass, gituu dulu yaa
      Salam hangat,

      Lily

  6. riska Says:

    ibu elfrida, apa di Jepang ada masjidnya? apa ada komunitas orang muslimnya? karna saya ingin menjadi perawat disana sekalian melanjutkan studi S2.
    terimakasih

    • elfrieda Says:

      Di Jepang tetep ada mesjid dan banyak juga komunitas muslimnya, gak hanya muslim dari Indonesia tapi dari berbagai negara…
      cuma memang letak mesjid jauh dari lokasi tempat tinggal karena tidak semua tempat di Jepang ada mesjidnya…
      Akan bagus sekali kalau mbak sambil kerja jadi perawat disana sambil ngambil S2 karena negara Jepang memudahkan masyarakatnya baik orang Jepang itu sendiri maupun orang asing untuk belajar, banyak beasiswa2 yang menunjang pendidikan dan kemudahan2 lainnya di instansi pendidikan Jepang.

      Salam hangat

  7. Aprica Lovenia Says:

    waah…pengen banget ke jepang….buangeet deh

    • elfrieda Says:

      Berdoa dan berusaha aja non…yakin dee maa Yang Di Atas semua yyang dicitakan akan tercapai…cuma masalah waktu koq ^-^

  8. riska Says:

    ibu elfida,
    apa kalau mau ke jepang harus bisa berbahasa inggris juga?
    dan bagaimana dgan biaya hidup sehari” disana?
    oiya dosen saya pernah cerita kalau orang jepang itu sibuk”, dan punya berbagai profesi dan mata pencaharian, dia malu jika tidak sibuk, misalnya pagi” dia sbg guru, lalu sorenya sbg ptugas kebersihan. tolong d jelaskan lebih detailnya bu :)

    • lily Says:

      Sebenernya klo ke Jepang yg pnting bs bhs Jepang krn rata2 org Jepang gak bs bhs Inggris,mereka lebih cinta bhs mreka. Jadi Riska tenang aja klo gak bs bhs Inggris tp fasih bhs Jepang malah itu sangat baik skali.
      Mayoritas org Jepang suka bkerja kras, Banyak skali akan qt liat orangtua2 yang berumur 60 taon ke atas masih bekerja keras mencari nafkah. Jumlah orgtua di Jepang lebih banyak dari org mudanya dikarenakan msy Jepang rata2 menikah di atas umur 40 taon ke atas. adi Riska jangan aneh klo ngeliat masih banyak sekali orangtua2 di Jepang masih bekerja dan tetap kuat karena mereka selalu beraktivitas dan berolahraga. Bisa dibilang org Jepang “workholik”

  9. uni Says:

    salam keal bu elfrieda,
    keponakan saya dapat beasiswa pertukaran pelajar selama setahun di jepan. kira kira perlu ga ya buat kartu kredit dan askes selama di sana? how.

    • elfrieda Says:

      Salam kenal juga…Sbenernya kalo di Jepang sendiri sudah otomatis kalo tinggal lama di sana bisa ngurus kartu kredit dan askes. Cuma setau saya kalo nyampe sana harus ngurus hp sana dulu baru bs buka rek bank. kalo cuma pertukaran pelajar sepertinya gak perlu juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.