Memory Dari Negri Zam-Zam
Pertama kali datang ke Mekkah hatiku senang bukan alang kepalang. Akhirnya keinginanku sejak kelas dua di bangku sekolah dasar terjawab sudah. Dulu sekali semasa kecil, aku suka sekali nonton acara sholat tarawih di Masjidil Haram ketika bulan Ramadhan tiba. Biasanya suka disiarkan oleh RCTI sekitar jam dua pagi seingatku. Waktu itu aku suka sekali nonton sendiri sambil ngebayangin kapan diriku bisa ke sana. Ketika aku kelas enam SD, sempet mau berangkat haji, sudah sampe ngurus passport segala tapi ternyata gak jadi karena kesibukan orangtuaku, mungkin belom waktunya kalee. Ketika usiaku 20 taon dan gak kepikiran mau ke sana lagi mengingat waktuku yang disibukkan oleh kuliah dan biaya untuk hajipun semakin membengkak kurasakan tak mungkinlah bisa ke sana, ke rumah Allah yang selalu kunantikan sejak SD. Akhirnya dengan izin Allah, aku dan keluarga bisa ke sana di taon 2000. Sesampai di sana, rasanya hatiku senang sekali tapi aku sulit menangis padahal kulihat orang-orang di sekitarku begitu juga mama dan saudara-saudaraku pada menangis ketika melihat Ka`bah untuk pertama kalinya. Di dalam hatiku yang paling dalam aku merasa bersyukur sekali kepada Allah, akhirnya mimpiku semasa kecil dulu bisa terealisasi ketika usiaku menginjak 20 taon tapi aku sendiri bingung dengan diriku ini, ketika semua orang menangis dari yang tersedu-sedu sampe mereka harus menangis kenceng ketika melihat Ka`bah, aku malah hanya diam mematung….yaa kuakui memang sedari dulu aku sulit sekali menangis bisa dibilang tak mudah kasihan dengan orang, aku gak suka ngeliat orang yang cengeng, suka ngeluh, dan gak tegar menghadapi hidup.
Sampailah pada acara wukuf di Arafah dimana semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk wukuf dan tak ada alasan tuk menangis. Tanpa kusadari aku bergumam dalam hati yang terdalam “Ya Allah, apakah aku tak punya hati hingga aku tak bisa menangis seperti orang lain?” itulah tanyaku dalam hati. Tak lama aku bergumam, serta merta air mataku menetes deras tanpa henti-hentinya. Disaat semua orang gak ada yang menangis, aku menangis sendirian, tentu aja itu dirasa aneh oleh mama dan saudara-saudaraku. Mereka semua pada heran kenapa aku menangis. Setiap ditanya mereka, aku hanya bisa menangis dan menangis, tak mau berhenti. Akupun bermohon dalam hati agar Allah menghentikan tangisku…Alhamdulillah akhirnya stop juga tu air mata, bisa-bisa aku capek dibuatnya karena harus menangis terus. Wallahualam bis shawab…Setelah pulang dari berhaji lumayanlah diriku sedikit ada perubahan dalam soal perasaan. Dulu yang tanpa ampun, tak mudah kasihan sama orang, dan antipati yang namanya airmata, sekarang lebih mudah tersentuh^-^
Lagi enak-enak sholat tahiyatul mesjid tinggal satu rakaat lagi, ee…orang kulit item satu rombongan bikin ulah. Ketika itu jama`ah tambah rame pula. Tiba-tiba saudaraku ngingetin untuk menyingkir aja daripada jatuh ntar susah berdiri, bisa-bisa keinjak-injak. Sayangnya akibat kejadian itu, sajadah hadiah dari temen papa raib entah ke mana padahal kejadiannya cuma bentar. Yaa sudah… apa boleh buat, harus diikhlasin. Ee…ternyata Allah Maha Baik, dia ganti satu sajadah yang hilang jadi empat sajadah. Yaa itu namanya rezeki^-^
Sudah menjadi peraturan kalo masuk mesjid gak boleh bawa kamera ato makanan. Setiap melewati pintu masuk, tas dan kantong baju kita akan selalu diperiksa petugas. Kadangkala, aku ngeliat mereka yang bawa makanan, makanannya suka diambil petugas. Pikirku waktu itu, apa petugasnya laper ato makanan yang dibawa jama`ah tak dijual di sana jadi mereka pengen nyoba^-^ ato memang ada alasan laen sehingga mereka gak boleh membawa makanan tersebut. Alhasil aku jadi ketakutan juga pas di dalam tasku ada pisang Ambon dua buah buat ganjel perutku selama itikaf di mesjid. Yaa walopun cuma dua buah pisang, lumayanlah bisa ganjel pert buat sementara waktu. Eee…taunya petugasnya malah ketawa ngeliat pisang dalam tasku. Iki piyee…..
Lagi asik-asiknya ngisi air Zam Zam ke botol minum, tiba-tiba ada seorang Pak Tua yang dari wajahnya sepertinya dia asli Mesir datang menghampiriku cuma untuk ikut bantuin ngisiin botolku”Ini orang kayak gak ada kerjaan aja”. Awalnya sempet heran sih,”Nie orang ngapain” tapi aku tetep bilang,”Very good (sambil ngangkat jempol) thank u very much, Sir!” Ada-ada aja nie orang he….he….yaa lumayanlah gak perlu nunggu lama, botol minumku cepet penuh.
Ada yang bilang kalo di Mekkah jangan bicara sembarangan walo hanya terbersit dalam hati sekalipun, biasanya jadi kenyataan lhoo jadi berhati-hatilah dalam berbicara dan dalam meniatkan segala sesuatunya. Hal ini mengajarkan kita untuk gak sembarangan bicara. Pepatah ini mungkin ada benarnya. Suatu kali sempet terbersit di hati pengen ngerasain jalan sendiri ke Masjidil Haram ketika pagi, siang, ato malem hari, “Seperti apaaa rasanya?”karena selama di Mekkah aku sekeluarga selalu barengan bila mau keluar, rasanya pengen nyoba sendirian. Hal ini disebabkan banyak yang bilang perempuan jalan sendirian di Mekkah tanpa muhrim bisa dikatakan rawan, bisa2 diculik ama orang sana. Waktu itu di dalam hati terbersit” masak sihh di rumah Allah bisa gak aman, asal kita yakin Allah bersama kita insyaallah semua akan baik-baik aja. Gak tau kenapa abis itu bagaimana kejadiannya mama dan saudara-saudaraku ninggalin aku sendirian di maktab padahal sebelumnya kita da siap-siap mo pergi bareng ke mesjid, apa mereka pada lupa yaa….ato mereka pada nggak ngerti kalo ada satu anaknya yang masih ketinggalan di maktab. Alhasil satu hari itu aku bisa ngerasain jalan sendirian di Mekkah. Tidak terlalu menakutkan menurutku…
Pada saat thawaf, ada seorang askar maen seenaknya motong jalan di depanku kayaknya sok jagoan gitu dan pada dasarnya aku tuu gak suka bangett liat orang yang sok-sok gituu. Eee…ternyata diriku salah faham, ternyata ada satu askar yang celaka pada saat itu dan temannya yang lewat di depanku tadi mau bantu. Dari kejadian tsb aku sadar bahwa aku harus sabar ngeliat tingkah orang yang beraneka warna apalagi tingkah laku mereka yang tak menyenangkan hati kita, “Don`t judge a book by it`s cover”, ya positif thinking aja yang paling enak biar hati kita tetep bersih. Jangan melihat segala sesuatu dari tampak luar aja, kadang apa yang dilihat oleh mata kita ga sama di kejadian yang sesungguhnya.
Lagi sibuk-sibuknya mo nyium Hajar Aswad, eee…baru tersadar ada tangan askar sedari tadi nangkring megangin pinggangku. Karena lagi nafsu-nafsunya mo nyium itu batu, hal itu gak sempet dipikirin lama-lama. Sebelum nyiumin itu batu yang udah ada di hadapanku sempet bikin diriku ragu dan membuatku berdiri mematung karena sempet terpikir dengan perkataan seorang teman katanya kalo banyak dosa, itu kepala bisa lekat di batu bikin aku takut juga (maklumlah aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa he2…), di tambah lagi ada seorang lelaki Mesir mau nyium Hajar Aswad juga jadi posisinya samping-sampingan, aku jadi bingung sendiri siapa yang mo nyium Hajar Aswad duluan. Tiba-tiba ada yang menekan kepalaku dari belakang untuk mencium batu itu. Aku tak tau siapa yang berulah menekanku kepala sehingga keraguanku di dalam hati gak berkepanjangan.Mengenai si askar tadi bisa jadi dia cari kesempatan, bisa juga mo bantu jagain biar gak kedorong ama orang-orang yang lagi desak-desakan. Wallahualam bis shawab….
Sesampai di Masjidil Haram banyak sekali kulihat orang pada nangis sambil nyiumin Ka`bah padahal yang kutau itu perbuatan syirik. Dengan arus manusia sebanyak itu, mama masih sempet-sempetnya nyuruh kami anak-anaknya sholat sunnah dua raka`at di dekat maqam Ibrahim. Dalam hatiku sempet terbersit apa mungkin bisa sholat di tengah-tengah arus manusia sebanyak ini. Ternyata hal yang tak mungkin bisa jadi mungkin asal kita yakin kita bisa melakukannya dengan seizin Allah SWT. Jadi dalam menjalani hidup di dunia ini, sesulit apapun itu, yakinilah bahwa kita mampu karena segala sesuatu yang terjadi pada diri kita sesuai apa pikiran kita.
Dasarnya emang rejeki, setiap mama belanja bareng aku, si Arab pemilik toko suka ngasih potongan harga. Gak hanya itu, ketika mama beli ayam panggang, tiba-tiba seorang Arab yang ada di situ menghampiriku tuk memberiku dua potong roti yang gede-gede. Berhubung si Arab bilang “Halal”, yaa kuterima dengan senang hati. Rotinya Arab lebih enak dimakan bersama kuah kari…
Rencana cuma pengen liat gelang doank, eee…malah dikasih, alasannya sihh klise si Arab menikahi seorang wanita Indonesia. Jadilah aku dan dua saudara perempuanku sibuk milih gelang karena kita bertiga masing-masing disuruh pilih seikat gelang yang kita suka.
Karena kita baru sampe di Mekkah, tentunya kami berenam selalu berangkat berbarengan. Tak tau kenapa, ketika kita melakukan sa`i, koq bisa-bisanya kami terpencar, padahal sedari tadi kita berenam selalu barengan. Mama, aku, dan adikku Uni tetap bersama, sedangkan dua saudara tertuaku Ipik dan Utari serta adik bungsuku Nata entah ada di mana. Cobaaa kalo ada hp saat itu, kita bisa calling-callingan jadi gak bingung-bingung amat nyari, padahal tadi kita semua sama-sama sa`i. Akhirnya mama pasrah soalnya sudah dicari-cari kemana-mana di sepanjang orang yang lalu lalang mengerjakan sa`i gak juga keliatan batang idung Ipik, Utari, dan Nata. Sebelum kami berencana pulang, mama meminta aku dan adikku Uni untuk keliling lagi kalau-kalau menemukan mereka. eee…taunya Nata lagi merhatiin orang yang lewat padahal aku sedari tadi lewat di situ dan sempat berdiri lama di tempat yang sama tapi tak melihat mereka. Dari kejadian ini aku belajar bahwa berusaha itu perlu semaksimal mungkin, selebihnya tawakal kepada Allah. Allah Maha Tau Segalanya. Segala sesuatu tak ada yang sia-sia.