Archive for the ‘oase iman’ Category

Seorang Ibu

June 13, 2010

Ibu adalah pemimpin dalam rumah tangga, seorang pemimpin bagi anak-anaknya. Kewajiban utama seorang ibu adalah berada di rumah, mengawasi, mengajari, dan mendidik anak-anaknya dengan tidak menutup adanya peran seorang ayah disini jadi walau bagaimanapun ayah tak bisa lepas tangan dengan menyerahkan semua peran ke ibu. Seumpama seorang ibu harus berkerja untuk membantu ekonomi keluarga, sudah menjadi tuntutan si ibu harus berkerja atau karena alas an yang lain sehingga ibu harus berada di luar rumah, tetaplah seorang ibu harus menyeimbangkan antara perannya di rumah maupun kerjaannya di luar rumah.

Ketika ibu memilih untuk bekerja di luar rumah, bukan bearti ibu berlepas tangan akan kewajibannya terhadap rumah, suami, dan anak-anaknya. Tidak berarti semua tanggungjawabnya diberikan kepada pembantunya. Seorang ibu haruslah menyadari seorang pembantu hanya bertugas membantu pekerjaan yang belum sempat ibu lakukan saat ibu, bukan menggantikan semua peran ibu di rumah. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi ketimpangan dalam rumah tangga ketika ibu terkondisi harus berkerja dan berada di luar rumah.

Di sinilah di butuhkan pengertian seorang suami untuk mau berbagi tanggungjawab dengan istri, bersama-sama saling membantu, dan mensupport satu sama lain, jangan sampai ada pikiran bahwa rumah dan anak-anak adalah semuanya tugas ibu, karena ibu juga seorang manusia biasa, tak lepas dari kekurangan dan keterbatasan. Seorang suami tak perlu sungkan-sungkan membantu tugas istri bila suami melihat istri betul-betul kewalahan dalam mengurusi semuanya dan istri juga harus ingat bahwa dia harus betul-betul berusaha semaksimal mungkin menyeimbangkan semuanya dan tidak menganggap enteng perannya.

Anak-anak yang baik dan tangguh didukung oleh seorang ibu yang baik dan tangguh pula. Sehingga sebagai seorang pemimpin, seorang ibu haruslah bisa bersikap lebih baik dan lebih bijaksana dalam menghadapi semua anak-anaknya, antara lain:

  1. Berilah anak pujian dan penghargaan yang jujur ketika si anak melakukan sebuah kebaikan.
  2. Beritahu kesalahan anak dengan baik dan santun serta tegas bila si anak melakukan sebuah kesalahan.
  3. Bicarakan kesalahan anak di hadapannya dengan cara yang santun agar dia mengerti bahwa perbuatan yang telah dia lakukan adalah salah dan jangan sampai diulangi kembali. Doronglah agar anak mau memperbaiki kesalahannya.
  4. Pujilah peningkatan yang dilakukan si anak sekecil apapun dan dalam hal apapun. Sebagai seorang ibu jangan pelit dalam memberi pujian kepada anak. Ekspresikan rasa suka cita kita atas apa yang dilakukan anak.
  5. Buatlah anak senang melakukan perkerjaan yang ibu sarankan, jangan sampai anak melakukan perkerjaan itu karena rasa takut tapi karena si anak betul-betul menyukainya. 

Semoga bermanfaat

HAJI MABRUR

June 13, 2010

Alkisah tersebutlah ada empat orang muslim tatkala mau berangkat haji menemui Rasulullah SAW. Mereka datang hendak memohon nasehat, bekal apa gerangan yang harus mereka siapkan menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Satu orang merasa lega karena merasa sudah mempersiapkan dirinya dengan menjual harta untuk bisa berangkat haji. Ia sanggup menunda pemenuhan kebutuhan yang lain. Satu orang lagi meyakinkan diri sendiri bahwa sepenunya dia merasa siap pergi haji tahun ini. Ia juga sudah lama menghapal semua amalan untuk beribadah haji. Semua dilakukan dengan penuh kesungguhan. Satu orang lagi merasa terpanggil dengan seruan Nabi Ibrahim. Karena kedudukan dan wibawanya mengharuskan ia pergi haji. Sebagai seorang tokoh di masyarakat, ia merasa wajib membuktikan di depan anggota masyarakat bahwa ia tidak saying harta dan waktu kalau semua itu demi ibadah. Tapi satu orang yang dari tadi diam merenung seraya bermunajat karena bekal uang yang ia siapkan lama, menjelang berangkat haji ini dipinjam oleh tetangga yang kena musibah.

Karena itu yaa Rasulullah kami mohon nasehat, bekal apa yang harus kami siapkan dengan kondisi kami seperti ini?” Berangkatlah haji dengan bekal taqwa, seru Rasulullah. Akhirnya berangkatlah mereka ke tanah suci kecuali muslim terakhir, karena bisikan taqwanya ia merelakan uangnya dipinjam oleh tetangganya yang terkena musibah.

Usai beribadah haji, merekapun menceritakan kembali kepada Rasulullah tentang cobaan dan godaan yang mereka dapat selama perjalanan dan setelah sampai disana. Merekapun ingin tahu pendapat Rasulullah, siapa diantara mereka hajinya paling mabrur. Jawaban Rasullah sungguh diluar dugaan. Rasulullah hanya menunjuk kea rah muslim yang tidak jadi berangkat haji. Dia hanya diam saja ketika teman-temannya berkisah seputar haji mereka, sedangkan dia hanya diam membisu tak tahu apa yang harus dikisahkan. Tetapi dengan bekal taqwa, ia betul-betul mengatasi dirinya dari cobaan dan godaan keinginannya untuk berangkat haji. Dia telah berhaji dengan pelaksanaan semua amalan haji dengan diwakili malaikat.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.