Archive for the ‘Kisah nyata’ Category

Surat Buat Mama

April 26, 2010

Pernah suatu sore, sepulang mama dari mengajar, kulihat ia menenteng bungkusan seperti biasanya. Ada ikan, sayur, buah-buahan, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Yaa setiap pulang dari mengajar, mama selalu menyempatkan diri mampir ke pasar dan tidak lupa  membeli makanan yang bisa langsung disantap di kala sore tiba. Walau ia sibuk mengajar, kutau ia selalu berusaha menyeimbangkan antara rumah dan sekolah. Ia selalu menyempatkan diri membuat sarapan pagi dan persiapan untuk makan siangnya sebelum ia berangkat mengajar. Ia selalu berusaha membuat rumah tetap selalu ada makanan agar orang rumah tidak kelaparan sepeninggal ia mengajar. Kebiasaan-kebiasaan mama seperti itulah membuatku terbiasa sampai sekarang setelah aku berumahtangga.

Seorang mama mengajariku bagaimana seorang wanita yang sudah menikah dan bekerja harus bisa menyeimbangkan antara keduanya agar rumah tangga tidak berantakan, bagaimana seorang wanita harus memiliki “tangan banyak” untuk bisa menyelesaikan segala urusan, dari urusan anak dan segala permasalahannya, urusan rumah dari cuci mencuci, bersih-bersih rumah dan lain sebagainya, urusan suami dan segala macam menyangkut suami, dan urusan pekerjaan.

Kadang aku berfikir, mama dengan jadwal mengajarnya yang padat masih tetap dapat menyempatkan diri untuk mengurus semuanya. Suatu kali aku bertanya padanya “Apakah ia tidak merasa capek?” waktu itu mama hanya menjawab bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu itu harus ikhlas agar segala rasa capek yang ada tidak terasakan dan belajarlah untuk tidak mudah mengeluh karena perbuatan itu dapat menjadikan apa yang sudah kita kerjakan sia-sia dan rasa capekpun akan bertambah pula. Mama-pun menambahkan ” Kalau nanti berumahtangga harus bisa bikin “kenyang perut dan hati” anggota keluarga agar mereka betah di rumah.”

Seperti biasa setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi jika ada jadwal mengajar di sekolah, wanita yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan istirahat sesaat untuk melepaskan penat. Biasanya aku membuatkan minuman untuknya bila aku berada di dekatnya sebagai pelepas dahaga. Sempat terlintas dalam benakku “Bosankah mama dengan rutinitas yang ia jalani selama ini…?”  

Masih jelas terbayang dalam ingatan kala kuterbangun di tengah malam yang sunyi, masih kulihat mamaku menyempatkan diri bersujud pada-Nya. Mama tidak pernah bosan-bosannya membangunkan suami dan anak-anaknya untuk sholat malam. Mama selalu mendoakan suami dan anak-anaknya di setiap sholatnya menjadi manusia-manusia yang senantiasa membuat mamaku tersenyum bangga memiliki kami semua.

Selepas Subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas Allah itu melanjutkan pekerjaan menyiapkan sarapan pagi sembari mendengarkan ceramah pagi. Tidak pernah sekalipun mama berteriak minta tolong untuk membantunya di dapur, biasanya anak-anaknya membantu sesuai kesadaran masing-masing, bisa dibilang tergantung inisiatif si anak. Ia selalu mengerjakan segala sesuatunya sendiri dan kalaupun ia butuh bantuan, itu memang betul-betul sangat diperlukannya. Mama pernah berkata padaku “Yang kerja tangan, bukan mulut, ketika bekerja sambil berzikir agar pekerjaan itu tidak terasa susah bagimu”. Tak pernah aku melihat mama mengeluh meski teramat banyak pekerjaannya. Yaa banyak hal kehidupan yang kupelajari darinya dan itu berguna sekali untuk kehidupanku di masa datang.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, kulihat wajahnya semakin tua. Mama selalu rajin mengingatkan dan mengomeli kami anak-anaknya semata-mata karena rasa kasih sayangnya dan sayangnya itu seringkali kami salahartikan. Kurasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah ia lakukan untuk kami di atas keterbatasannya sebagai manusia, seorang istri dan seorang ibu. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang enggan mama ungkapkan.

(Teruntuk mama tersayang)

Kisah Nyata Seorang Anak Manusia: Islam Datang Padaku

December 14, 2008

Linda (Widad) Delgado, terlahir sebagai seorang Kristiani dan sejak usia 9 tahun sudah rajin membaca Alkitab. Namun itu tidak menjadikannya percaya begitu saja pada agama Kristen yang dianutnya, oleh sebab itu sampai usia 52 tahun, Linda terus terus melakukan pencarian untuk menemukan kebenaran sejati tentang Tuhan.

Selama puluhan tahun, Linda yang tidak pernah menjadi anggota jamaah salah satu gereja, mempelajari ajaran agama Katolik, Protestan, Mormon, Yehovah sampai agama Yahudi. Namun Linda masih belum bisa menerima ajaran-ajaran agama tersebut.

“Hati saya berkata bahwa Yesus bukan Tuhan tapi hanya seorang nabi. Hati kecil saya berkata, Adam dan Hawa bertanggung jawab atas dosa-dosa mereka sendiri, dan bukan saya. Hati kecil saya berkata, saya selayaknya berdoa pada Tuhan dan bukan pada yang lain. Akal saya mengatakan juga bahwa saya harus bertanggung jawab atas perbuatan baik dan perbuatan buruk yang saya lakukan,” tutur Linda.

Linda yang bekerja sebagai polisi di Arizona, AS mengaku selama itu pula ia tidak pernah berkomunikasi dengan Muslim. Ia, seperti kebanyakan orang Barat, terlalu banyak membaca pemberitaan di media massa tentang agama Islam, yang disebut-sebut sebagai agama yang dianut para teroris fanatik.

“Itulah sebabnya, saya tidak pernah mencoba mencari buku-buku atau informasi tentang Islam. Saya tidak tahu apapun tentang agama ini,” kata Linda.

Awal Perjalanan

Pada usia 52 tahun, Linda dan suaminya yang juga polisi, pensiun dari dinas kepolisian tepatnya pada tahun 2000. Saat itulah ia bertemu seorang penerbang yang minta tolong mencarikan rumah bagi sejumlah polisi asal Arab Saudi yang sedang berada di AS dalam rangka belajar bahasa Inggris dan tugas belajar di akademi kepolisian di Arizona. Para polisi Arab Saudi itu berharap bisa tinggal dengan keluarga Amerika agar mereka bisa mempraktekkan bahasa Inggris dan belajar tentang budaya masyarakat Amerika.

Saat itu, Linda dan suaminya tinggal tidak jauh dengan puteranya yang menjadi orang tua tunggal untuk seorang puterinya. Setelah berdiskusi dengan suaminya, Linda menyatakan bersedia membantu para polisi Arab Saudi itu. Saat itu ia berpikir, ini akan menjadi kesempatan untuk cucu perempuannya belajar tentang orang-orang dari negara lain. Tapi Linda mengaku agak khawatir saat diberitahu bahwa polisi-polisi Saudi itu beragama Islam.

Kemudian seorang penerjemah dari Universitas Arizona mengenalkan anak muda dan tidak bisa berbahasa Inggris. Namanya Abdul. Dialah polisi Saudi yang akan tinggal bersama keluarga Linda. Keluarga Linda cepat akrab dan menyukai Abdul karena perilaku Abdul yang santun.

“Abdul mengatakan, bahwa saya adalah non-Muslim pertama yang pernah diajarkannya tentang Islam,” ujar Linda.

Setelah Abdul, kemudian datang Fahd. Usia Fahd lebih muda dan sangat pemalu. Selain menjadi tutor, Linda, Abdul dan Fahd berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan sebagai polisi, tentang AS, tentang Arab Saudi dan tentang Islam. Linda mengamati bagaimana Abdul dan Fahd serta 16 anggota polisi Saudi lainnya yang sedang belajar di AS itu saling membantu satu sama lain. Dan Linda mengaku kagum pada Fahd dan Abdul yang sama sekali tidak terpengaruh dengan budaya Amerika meski mereka sudah satu tahun tinggal di AS.

“Mereka pergi ke masjid setiap hari Jumat, mereka tetap salat meski mereka sangat lelah dan mereka selalu hati-hati dengan apa yang mereka makan. Mereka menunjukkan pada saya bagaimana memasak beberapa masakan tradisional Arab Saudi, mengajak saya ke restoran dan pasar warga Arab. Mereka juga sangat baik pada cucu saya, memberikannya banyak hadiah, lelucon dan persahatan,” ungkap Linda.

Suatu hari, Linda menanyakan pada mereka apakah punya al-Quran lebih, karena Linda ingin membaca apa sebenarnya isi al-Quran. Fahd dan Abdul lalu menghubungi kedutaan besar Saudi di Washington DC dan minta dikirimkan al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris agar bisa dibaca Linda. Setelah itu, Linda sering bertanya tentang Islam pada dua polisi muda Saudi itu.

Dalam satu kesempatan, salah seorang polisi Saudi meminta istrinya datang dan tinggal di AS. Linda diundang ke rumah mereka dan disana Linda banyak bertanya pada istri polisi tadi tentang busana muslim, wudhu dan banyak hal tentang Islam.

Seminggu sebelum “anak-anak angkat” Linda kembali ke Arab Saudi, ia mengadakan makan malam bersama seluruh keluarga. Linda sengaja membeli jilbab dan baju abaya untuk dikenakan saat malam itu. Linda ingin “anak-anak angkat”nya mengingatnya sebagai saudara perempuan yang mengenakan busana muslimah yang baik.

Sebelum mereka makan malam itu, Linda memutuskan untuk mengucapkan syahadat. Kedua polisi muda itu sangat terharu. Mereka menangis sekaligus tersenyum bahagia melihat Linda menjadi seorang Muslimah.

“Dalam hati saya percaya bahwa Allah telah mengirim kedua anak itu pada saya untuk menjawab doa-doa saya selama puluhan tahun. Saya percaya Dia telah memilih saya untuk melihat kebenaran dan cahaya Islam. Saya percaya Allah telah mengirimkan Islam ke rumah saya. Saya bersyukur Allah telah melimpahkan kasih sayang dan cintaNya pada saya,” tutur Linda tentang keislamannya.

Menjadi Seorang Muslimah

Setelah “anak-anak angkat”nya kembali ke Saudi, Linda secara resmi mendaftarkan dirinya sebagai seorang Muslim dan bergabung dengan sebuah masjid lokal. Linda mengakui, keluarga besarnya masih terkaget-kaget dengan keputusannya memeluk Islam. Mereka berpikir Linda tidak akan lama menjadi seorang Muslim dan dengan cepat akan segera berpindah ke agama lain seperti yang ia lakukan saat masa mudanya dulu.

Beruntung suami Linda orang yang sangat terbuka. Ketika Linda mengatakan bahwa mulai sekarang mereka harus makan makanan halal dan meninggalkan makanan yang diharamkan Islam, suaminya hanya menjawab “okay”. Linda juga mulai menyingkirkan foto-foto manusia dan gambar binatang yang dipajang di rumahnya. Linda tidak lupa menulis surat pada teman-teman dan keluarganya yang non-Muslim, mengabarkan bahwa sekarang ia menjadi seorang Muslim dan itu tidak akan mengubah hubungan mereka.

Sambil terus menjelaskan tentang rukun Islam pada keluarganya, Linda juga belajar salat dan membaca al-Quran, aktif dalam kegiatan Muslimah dan banyak menambah wawasan tentang Islam lewat internet. Lewat internet pula Linda bertemu dengan seorang Muslimah asal Kuwait yang mengiriminya paket berisi jilbab, kaos kaki dan abaya. Sahabatnya itu mengucapkan selamat atas keputusannya menjadi seorang Muslim.

Linda bukannya tidak menghadapi kesulitan beradaptasi dengan sesama Muslimah yang ia jumpai. Dari beberapa masjid yang ia kunjungi, Linda memahami bahwa kelompok-kelompok Muslim di sebuah masjid berkumpul biasanya karena persamaan budaya dan bahasa. Linda pernah merasa menjadi “orang asing” di tengah Muslim yang tidak terlalu mempedulikan kehadirannya. Namun Linda lebih banyak menemukan Muslim yang terbuka, hangat dan siap membantunya untuk belajar Islam.

Sampai sekarang, Linda masih terus belajar dan belajar. Ia kini mengelola situsnya www.widad-lld.com dan menjadi direktur untuk Islamic Writers Alliance.

 

Sumber: Era Muslim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kisah Seorang Thomas Webber Masuk Islam

December 14, 2008

Serangan 11 September 2001 menjadi titik awal perang AS melawan teror di bumi-bumi Muslim. Invasi AS ke Irak dan Afghanistan membuat dunia percaya bahwa Islam dan Muslim identik dengan kekerasan dan terorisme. Tapi kampanye-kampanye negarif tentang Islam dan Muslim yang demikian gencar justeru membuat banyak non-Muslim di Barat yang tertarik mempelajari Islam dan tak sedikit diantara mereka yang akhirnya memilih menjadi seorang Muslim. Mereka berani mengucap dua kalimat syahadat karena yakin Islam sebenarnya adalah agama yang paling sempurna dan mengajarkan perdamaian.

Thomas Webber seorang pemuda Inggris, adalah salah satu orang yang tidak percaya begitu saja dengan kampanye hitam terhadap Islam yang dilakukan dunia Barat. Terlahir dari keluarga Kristen, Webber dan saudara-saudara kandungnya; satu orang kakak lelaki dan dua adik perempuan kembar, diwajibkan ikut sekolah Minggu oleh ibunya.

Sejak kecil, Webber memang sudah dikenal cerdas. Apa yang diajarkan di sekolah Minggu membuat Webber kecil bertanya-tanya mengapa Tuhan yang ia kenal penuh cinta kasih dan memiliki kekuatan seperti keyakinan dalam Kristen, harus membunuh anaknya untuk menanggung beban dosa-dosa manusia. Webber berpikir ajaran itu tidak masuk akal. Waktu terus berjalan, Webber pun beranjak remaja. Pada masa ini, Webber tidak lagi terlalu memikirkan konsep ketuhanan. Bagi Webber, hari-hari besar keagamaan adalah hari libur dimana ia bisa santai atau saatnya bagi-bagi hadiah. Dia memandang orang-orang yang percaya pada agama adalah orang-orang yang cara berpikirnya lemah atau bodoh, karena mereka tidak bisa membuktikan ajaran agama mereka seperti pembuktian dalam ilmu pengetahuan yang ia pelajari di sekolah.

Di ulangtahunnya yang ke-13, terjadi perubahan dalam diri Webber. Ia merasa mulai peduli lagi pada agama. Tapi bukan dalam artian ia kembali menjadi penganut Kristen yang religius. Tapi hanya meyakini bahwa ada satu kekuatan atas segala sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya.

Webber pun mulai mempelajari bermacam-macam agama, kecuali Islam. Agama-agama yang ia pelajari membuatnya berpikir bahwa semua agama itu bertujuan untuk membuat orang menjadi lebi bermoral. Webber merasa masih ada sesuatu yang kurang dari beragam agama yang sudah ia pelajari. Pencarian atas kebutuhan jiwanya yang belum terpenuhi itupun terus ia lanjutkan.

Menemukan Kebenaran Islam

Tahun 2001, terjadilah serangan 11 September ke gedung kembar World Trade Center di New York yang membuatnya hampir tak percaya menyaksikan tragedi itu. Namun ramainya pemberitaan tentang peristiwa kelabu itu sama sekali tidak terlalu mempengaruhi kehidupannya. Perhatiannya mulai terusik ketika laporan-laporan tentang serangan itu mulai menyebut-sebut tentang teroris Islam, tindakan balasan terhadap Muslim dan dilanjutkan dengan laporan-laporan tentang serangan ke Afghanistan lalu ke Irak. Webber mulai mempertanyakan semua itu dan tergerak untuk mencari kebenaran tentang Islam.

“Saya tidak begitu saja percaya bahwa orang-orang Islam bisa menjadi teroris yang hanya bisa membunuh dan menimbulkan kebencian. Bagi saya itu sangat aneh, sehingga saya mengabaikannya. Tapi mungkin ini adalah saat ketika saya untuk pertama kalinya benar-benar merasa ingin untuk belajar agama,” kata Webber.

Di tahun keenam masa kuliahnya, Webber berkenalan dengan seorang Muslim. Dari sahabat Muslimnya itulah Webber menemukan menemukan bukti yang jelas dan nyata bahwa orang-orang Muslim adalah seperti penganut-penganut agama lain pada umumnya, dan bukan orang-orang yang brengsek dan hanya bisa melakukan kekerasan.

Sejak itu, Webber mulai serius belajar Islam. Ia diam-diam menggali berbagai informasi tentang Islam dari internet. Ia melakukannya saat sedang seorang diri, karena Webber mengaku belum siap jika ada orang yang melihatnya atau berpikir Webber sedangn mempertimbangkan masuk agama tertentu, apalagi memilih agama Islam. Tapi Webber meyakini apa yang ia baca tentang Islam, meski ia sedikit mengalami kebingungan yang membuat perjalanannya menuju Islam agak tersendat.

Pada suatu saat di Musim Panas, Webber merasa bahwa ia sudah hampir mantap untuk memilih Islam, meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di kepalanya dan ia tidak punya tempat untuk bertanya. Untunglah sahabat Muslimnya menelponnya dan butuh berjam-jam buat Webber untuk mengatakan bahwa ia bantuan sahabatnya itu.

Akhirnya, Webber berani mengatakan bahwa ia masih bingung tentang agama. Saat itu Webber masih belum mau mengatakan bahwa ia ingin masuk Islam sampai ia benar-benar yakin bahwa ia harus menjadi seorang Muslim.

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Di ulangtahunnya yang ke-20 Webber memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, beberapa hari sebelum ia berangkat ke London untuk menghadiri Konferensi ”Global Peace and Unity”.

”Malamnya, saya berusaha tidur tapi yang terdengar di telinga saya hanya suara adzan. Itulah saat-saat terindah yang pernah saya rasakan,” tukas Webber menceritakan betapa gelisahnya ia menunggu detik-detik bersejarah dalam hidupnya, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah menjadi seorang Muslim, Webber masih harus berjuang keras agar ia bisa diterima oleh keluarganya. Perjuangannya tak sia-sia, karena keluarga sekarang sudah menerimanya menjadi seorang Muslim. Tapi perjalanan Webber sebagai mualaf masih panjang.

”Sekarang saya masih belajar hadist dan alQuran dan hal-hal lainnya tentang Islam,” tandas Webber.

 

Sumber: Era Muslim

Satu Dari Sekian Kisah Hidupku

November 19, 2008

Sepanjang perjalanan hidupku banyak kutemukan kejahatan, kebencian, kedengkian, dan kebusukan sebagai fenomena yang nyata selain mengakui kebaikan, ketulusan, kebenararan, dan cinta. Itulah hidup yang menjadikanku lebih kuat. Seiring perjalanan hidupku pula kutemukan banyak cinta di mana-mana. Aku berusaha menyelaminya, menjalaninya, dan memastikan perasaan cintaku kepada setiap kumbang yang datang dalam hidupku. Pada saat itu ataupun saat ini, tak pernah terbersit sedikitpun berfikir bahwa cinta hanyalah pengisi kekosongan belaka, obat sepi semata, sebuah permainan semata, dan tempat pelampiasan nafsu syahwat.

Cinta haruslah membuatku nyaman dan buat hatiku bahagia dan dalam memberi ataupun menerima cinta, segala sesuatunya perlu dipertanggungjawabkan. Cinta adalah masalah hati dan perasaan. Seorang Lily tak akan pernah mempermainkan hati dan perasaannya sendiri maupun hati dan perasaan orang lain. Seorang Lily mengajarkan tuk jujur dengan perasaan sendiri dengan bahasanya yang lugas.

Aku menyukai setiap kumbang yang datang padaku karena masing-masing memiliki keunikan-keunikan tersendiri, baik keunikan dalam hal ketulusan dan pamrih, keunikan dalam hal kejahatan dan kebaikan, dendam dan tipu muslihat serta lain sebagainya. Seiring waktu aku mengenal mereka, kutemukan berbagai fenomena-fenomena itu. Persentase antara keburukan dan kebaikan beranekaragam. Dari sekian kumbang yang datang padaku, ternyata aku tak punya cukup hati mempertahankan mereka. Akhirnya kutemukan satu kumbang yang membuatku cukup hati mempertahankannya di hadapan keluargaku dan Tuhanku. Dialah Fahlesa, satu dari sekian individu yang unik.

Cerita Hati

November 19, 2008

Mimpi menggapai bintang di langit kadang membuatku takut. Akankah aku bisa menggapainya…??? Tapi aku punya usaha yang keras dan niat yang tulus tuk meraih semuanya sehingga aku bisa seperti ini sampai saat ini. Aku bisa jalani semuanya dengan baik, walaupun tak bisa kupungkiri ternyata masih begitu banyak yang belum kucapai dalam hidup ini. Walau sesuatu itu, aku rasa tak mampu melakukannya  tapi demi diriku, demi orang-orang yang kusayang, akupun dapat melakukannya dengan sepenuh hati.

Yang kubutuhkan dalam hidupku hanyalah senyum mereka. Senyum yang memberiku semangat, senyum yang memberiku kekuatan, senyum yang memberiku harapan, itulah senyum dari orang-orang yang kusayang. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku juga. Tanpa mereka, hidupku terasa hampa.

Kutemukan “Klik” di 24 Tahun Usiaku

November 18, 2008

Begitu banyak lelaki yang datang menemani langkah hidupku, begitu banyak tapak-tapak cinta mengiringi cerita hidupku. Segala kesedihan hidup justru menambah muatan cinta dalam hidupku. Sedari remaja aku selalu berdoa padaNya agar suatu hari kelak dan di waktu yang tepat pula, aku dipertemukan dengan seorang lelaki yang membuatku bertambah dekat denganNya tapi di sela curhatku pada Sang Khalik, akupun memohon padaNya agar aku punya cinta pada lelaki tersebut, tidak kucruk-kucruk nikah dengan alasan “Kita nikah karena sudah dekat deadline ato the right man in the right time atau sejenisnya”.

Tak bisa kupungkiri banyak sekali para wanita menikah bukan karena alasan cinta dan itu sah-sah saja menurutku, cinta juga bisa berproses. Ada yang menikah karena tak punya alasan lain untuk menolak lelaki tersebut karena memiliki apa yang menjadi kriteria wanita pada umumnya, ada juga menikah karena cinta, tentunya tergantung dari masing-masing individu faktor-faktor apa saja yang membuat para wanita tak punya alasan untuk menolak.

Bagi diriku pribadi, aku butuh perasaan cinta terhadap lelaki sebelum aku mempertahankannya di hadapan keluargaku dan Sang Khalik. Ternyata cinta saja tak cukup bagi seorang Lily, dirinya butuh kebaikan dan ketulusan serta rasa tanggungjawab dari lelaki yang dicintainya agar perasaan cintanya semakin tumbuh dan berkembang.

Syukur padaMu, Yaa Ilahi Robbi akhirnya dari sekian banyak lelaki yang menemani cerita cintaku, akhirnya kutemukan yang kucari selama ini. Seorang lelaki yang menjadi bagian dari hidupku yang membuatku selalu dekat padaMu. Seorang lelaki yang mencintaiMu sehingga dia mencintaiku, menghormatiku, dan menasehatiku ketika aku salah dan lalai padaMu. Seorang lelaki yang tau tujuan hidupnya dan mau dibawa kemana keluarga yang dibangunnya. Seorang lelaki yang penyayang dan pengertian  sehingga membuatku bercerita segala hal tentang kekuranganku dan kelebihanku. Seorang lelaki yang selalu membutuhkan doaku untuk kehidupannya dan mimpi-mimpinya. Seorang lelaki yang butuh diriku untuk menjadikan hidupnya lebih bermakna dan sempurna. Seorang lelaki di mana aku banyak melihat hal baik pada dirinya. Seorang lelaki yang penuh ketulusan dan ketotalan dalam cinta serta keyakinan dalam cinta tuk selalu setia padaku membuatku percaya akan kebenaran cintanya padaku.

Dialah lelaki yang cerdas dan dapat kupercaya kata-katanya. Seorang lelaki yang memiliki kesungguhan dan tanggungjawab dalam hidup dan pada orang-orang yang disayanginya. Seorang lelaki yang memiliki rasa percaya diri sehingga aku tak perlu merasa khawatir dia bakal jatuh dalam posisi yang buruk sekalipun dan dia bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru sekalipun. Seorang lelaki yang menghormati dan menghargai orangtua, saudara, maupun orang lain sungguh menyegarkan perasaanku. Seorang lelaki yang memiliki rasa simpati dan empati terhadap siapapun sungguh membuatku tersentuh.

Terima kasih padaMu Yaa Allah atas semua cinta yang hadir dalam hidupku dan akhirnya kutemukan “Klik” yang kucari selama ini.

Hakikat Cinta Sejati: Kisah Nyata Seorang Pak Tua

November 18, 2008

Dilihat dari usianya beliau bisa dibilang sudah tak muda lagi, usia yg sudah memasuki senja. Seorang bapak Suyatno (58 tahun) yang kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit yang sama-sama sudah tua seperti dirinya. Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun. Mereka dikarunia empat orang anak yang lucu-lucu. Setelah istrinya melahirkan anak yang ke empat, tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi, itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan televisi supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia menemani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak pak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka
sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka sebaiknya dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak…bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” . Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya “sudah yang
keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa, ibupun akan mengijinkannya, “Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”. Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya. “Anak-anakku ……Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk
nafsu, mungkin bapak akan menikah…..tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku, itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, “Kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat tergantikan dengan apapun. Coba kalian tanya  ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang ini. Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah kesehatan untuk dirawat orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit. Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata sang ibu, dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah pada satu waktu pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun televisi swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Saat itulah meledak tangis beliau, ditambah lagi tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuan tak sanggup menahan haru.

Pak Suyatno bercerita….“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai
saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya empat orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah dan untuk cinta. Itu merupakan ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia dalam keadaan sakit. Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya.

Sumber: Ruskandar

Papa Ohh Papa…

November 11, 2008

Dalam hidupku, aku sangat bersyukur pada Allah memiliki seorang mama Zaleha dan papa Ali sebagai kedua orangtuaku. Tak bisa kupungkiri, mereka berdua tentunya tidak terlepas dari sifat manusianya yang mempunyai kekurangan dan keterbatasan. Di atas semua keterbatasan mereka sebagai orangtua, aku sudah cukup puas memiliki mereka.

Seorang papa Ali yang setiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan anak dan istrinya. Orang inilah yang selalu berusaha mencukupi segala kebutuhan anak dan istrinya dengan fasilitas memadai. Orang inilah yang selalu memperhatikan nasib perut anak dan istrinya dan menginginkan pendidikan anak-anaknya lancar. Orang inilah yang selalu membayangkan dan ingin melihat hidup anak-anaknya kelak senang sampai hari tua seperti hidupnya di masa tua.

Kecintaannya dan tanggungjawabnya pada keluarga menjadikannya pribadi yang betah di rumah di setiap waktu luang yang ia miliki, dimana baginya rumah adalah tempat yang nyaman dan menyenangkan melihat anak dan istri bekumpul dan bercanda ria bersama. Sorang papa Ali ingin melihat semua anak-anaknya hidup senang dan bahagia seperti apa yang telah ia capai sekarang ini di masa tuanya.

Dengannya kulewati hari-hari suka dan duka. Terlalu banyak kenangan manis yang kuingat ketika dia ada. Kurasakan betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua. Sekarang bisa kubayangkan rasanya bila orang-orang terkasih tak lagi membuka matanya untuk selama-lamanya.

Mama Ohh Mama…

November 11, 2008

Pernah suatu sore, sepulang mama dari mengajar, kulihat ia menenteng bungkusan seperti biasanya. Ada ikan, sayur, buah-buahan, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Yaa setiap pulang dari mengajar, mama selalu menyempatkan diri mampir ke pasar dan tidak lupa  membeli makanan yang bisa langsung disantap di kala sore tiba. Walau ia sibuk mengajar, kutau ia selalu berusaha menyeimbangkan antara rumah dan sekolah. Ia selalu menyempatkan diri membuat sarapan pagi dan persiapan untuk makan siangnya sebelum ia berangkat mengajar. Ia selalu berusaha membuat rumah tetap selalu ada makanan agar orang rumah tidak kelaparan sepeninggal ia mengajar. Kebiasaan-kebiasaan mama seperti itulah membuatku terbiasa sampai sekarang setelah aku berumahtangga.

Seorang mama mengajariku bagaimana seorang wanita yang sudah menikah dan bekerja harus bisa menyeimbangkan antara keduanya agar rumah tangga tidak berantakan, bagaimana seorang wanita harus memiliki “tangan banyak” untuk bisa menyelesaikan segala urusan, dari urusan anak dan segala permasalahannya, urusan rumah dari cuci mencuci, bersih-bersih rumah dan lain sebagainya, urusan suami dan segala macam menyangkut suami, dan urusan pekerjaan.

Kadang aku berfikir, mama dengan jadwal mengajarnya yang padat masih tetap dapat menyempatkan diri untuk mengurus semuanya. Suatu kali aku bertanya padanya “Apakah ia tidak merasa capek?” waktu itu mama hanya menjawab bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu itu harus ikhlas agar segala rasa capek yang ada tidak terasakan dan belajarlah untuk tidak mudah mengeluh karena perbuatan itu dapat menjadikan apa yang sudah kita kerjakan sia-sia dan rasa capekpun akan bertambah pula. Mama-pun menambahkan ” Kalau nanti berumahtangga harus bisa bikin “kenyang perut dan hati” anggota keluarga agar mereka betah di rumah.”

Seperti biasa setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi jika ada jadwal mengajar di sekolah, wanita yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan istirahat sesaat untuk melepaskan penat. Biasanya aku membuatkan minuman untuknya bila aku berada di dekatnya sebagai pelepas dahaga. Sempat terlintas dalam benakku “Bosankah mama dengan rutinitas yang ia jalani selama ini…?”  

Masih jelas terbayang dalam ingatan kala kuterbangun di tengah malam yang sunyi, masih kulihat mamaku menyempatkan diri bersujud pada-Nya. Mama tidak pernah bosan-bosannya membangunkan suami dan anak-anaknya untuk sholat malam. Mama selalu mendoakan suami dan anak-anaknya di setiap sholatnya menjadi manusia-manusia yang senantiasa membuat mamaku tersenyum bangga memiliki kami semua.

Selepas Subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas Allah itu melanjutkan pekerjaan menyiapkan sarapan pagi sembari mendengarkan ceramah pagi. Tidak pernah sekalipun mama berteriak minta tolong untuk membantunya di dapur, biasanya anak-anaknya membantu sesuai kesadaran masing-masing, bisa dibilang tergantung inisiatif si anak. Ia selalu mengerjakan segala sesuatunya sendiri dan kalaupun ia butuh bantuan, itu memang betul-betul sangat diperlukannya. Mama pernah berkata padaku “Yang kerja tangan, bukan mulut, ketika bekerja sambil berzikir agar pekerjaan itu tidak terasa susah bagimu”. Tak pernah aku melihat mama mengeluh meski teramat banyak pekerjaannya. Yaa banyak hal kehidupan yang kupelajari darinya dan itu berguna sekali untuk kehidupanku di masa datang.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, kulihat wajahnya semakin tua. Mama selalu rajin mengingatkan dan mengomeli kami anak-anaknya semata-mata karena rasa kasih sayangnya dan sayangnya itu seringkali kami salahartikan. Kurasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah ia lakukan untuk kami di atas keterbatasannya sebagai manusia, seorang istri dan seorang ibu. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang enggan mama ungkapkan.

(Teruntuk mama tersayang)

Perjalanan Hidupku

November 10, 2008

1979…Terlahirlah seorang bayi perempuan nun jauh di pulau seberang, pulau Sumatera tepatnya di kota Palembang, kota seribu cinta keluarga dan cerita semasa kecil.

1984-1991…Dimulailah awal kehidupanku di Sekolah Madrasah Ibtidayah Adabiyah II Palembang, sekolah yang mengajariku banyak hal tentang Islam, baca tulis Al-Qur`an, dan hal-hal positif lainnya.

1991-1994…Kumulai hari-hariku di Sekolah Menengah Pertama  Negri IV, penuh canda dan tawa serta kenakalan-kenakalan kecil yang kubuat.

1994-1997…Kulanjutkan hari-hariku di Sekolah Menengah Atas Negri V, banyak cerita di sana.

1997…Saat itulah kulangkahkan kakiku dengan mantap tuk menuntut ilmu di ibukota Jakarta, kota yang banyak dielu-elukan orang, kota seribu makna, tempatku menempa diri, tempatku menjadi dewasa, proses pembelajaran diriku tanpa peran serta orangtua, kota yang begitu banyak kenangan indah. Kampus UI memberikan banyak kenangan tak terlupakan padaku, kampus yang mengajariku arti berbagi dengan orang-orang yang tidak beruntung.

2000…Saat yang kunanti-nantikan sejak dulu kala akhirnya terjawab sudah di usiaku yang ke-20…Aku datang memenuhi panggilan-Mu Yaa Allah…Kalau kau lihat manusia-manusia berkumpul jadi satu tanpa ada perasaan risih dan aneh, lelaki dan perempuan bercampur menjadi satu dengan rasa yang satu pula yaitu persaudaraan sesama umat, semua tunduk dan sujud di rumah-Nya. Itulah gambaran terindah yang kurasakan sampai sekarang setelah aku memenuhi panggilan-Nya.

2001…Selesai sudah kewajiban yang satu menyelesaikan pendidikan diplomaku. Selesai satu tanggungjawabku kepada orangtua.

2001-2005…Kulanjutkan cita-citaku di dunia kefarmasian sampai aku menyelesaikan pendidikan profesi Apoteker, sebuah kota pendidikan, kota yang banyak mengajariku arti sebuah persahabatan dan persaudaraan, kota yang banyak mengajariku arti sebuah keprihatinan hidup dan perjuangan mencapai impian.

2005…Tak menyangka akhirnya cintaku bersemi di KKN (sungguh Kisak Kasih Nyata). Kutemukan “Klik” yang selama ini kucari dari setiap pria yang datang padaku, akhirnya kutemukan pada dirinya. KKN merupaan moment yang penuh warna, penuh romantika, begitu indah, dan berkesan. Disinilah kita berproses tuk saling mengenal, memahami, dan menyelami  hati masing-masing, tuk saling mengerti dan menghormati segala perbedaan yang ada, tuk lebih dewasa dan bijaksana dalam memandang sesuatu.

2005-2006…Awal perjalanan cintaku dengannya , seorang pria yang berhati lembut, banyak kebaikan yang mendekatkan diriku Pada-Nya. Di tahun inilah kulakukan dua ikrar sekaligus, ikrarku terhadap profesiku dan ikrarku terhadap pujaan hatiku. Syukur kupanjatkan Pada-Mu Yaa Allah, akhirnya ijasah dan ijabsah bisa kudapatkan, kugenapkan separuh din-ku sebagai tanggungjawabku Pada-Mu dan kuselesaikan tanggungjawabku kepada orangtuaku yang sudah menyekolahkanku. Terima kasih Yaa Allah atas hidup yang Kau berikan padaku…

29 Oktober 2006…hari emasku dengannya, kuarungi hidupku bersamanya di kota pendidikan, kota tempat cintaku bersemi. Di tahun dan tempat yang sama pula aku mendapat kesempatan bekerja sebagai Apoteker di sebuah apotek.

2007 sampai sekarang…Kuarungi hidup bersama dengannya di negri Sakura dalam tali kasih yang diberkahi dan dirahmati Allah SWT bersama buah cinta dari hati yang terdalam.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.