MULTIPLE SCLEROSIS (MS)
A. Pendahuluan
Multiple Sclerosis (MS) atau sklerosis ganda merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf pusat, suatu kelainan peradangan yang terjadi pada otak dan sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh banyak faktor,terutama focal lymphocytic infiltration, yaitu sel T secara terus-menerus bermigrasi menuju lokasi dan melakukan penyerangan seperti yang layak terjadi pada setiap infeksi dan berakibat pada kerusakan myelin dan akson. Secara harfiah, istilah Multiple Sclerosis berati banyak luka/ parut.
Pada awalnya, setiap peradangan yang terjadi berangsur menjadi reda sehingga memungkinkan regenerasi selaput myelin.Myelin adalah materi lemak yang melindungi saraf, berfungsi seperti lapisan pelindung pada kabel listrik dan memudahkan saraf untuk mengirim impulsnya dengan cepat. Kecepatan dan efisiensi pengiriman impuls inilah yang memungkinkan sebuah gerakan tubuh yang halus, cepat,dan terkoordinasi dilakukan hanya dengan sedikit usaha. Pada saat ini, gejala awal MS masih berupa episode disfungsi neurologis yang berulang kali membaik. Walaupun demikian, dengan berselangnya waktu, sitokina yang disekresi oleh sel T akan mengaktivasi sejumlah mikroglia, dan astrositsejenis fagosit yang bermukim pada jaringan otak dan sumsum tulang belakang dan menyebabkan disfungsi sawar otakserta degenerasi saraf kronis yang berkelanjutan.
Secara klinis, akan terjadi akumulasi progresifseperti masalah penglihatan, kelemahan pada otot, penurunan daya indra, depresi, kesulitan koordinasi dan berbicara, rasa sakit dan bahkan kelumpuhan. Secara paraklinis, ditemukan defisiensi kompleks I rantai pernafasan di dalam mitokondria dan terjadi kerusakan akson dan lebam pada otak dan sumsum tulang belakang akibat peradangan fase akutdan gliosis yang terjadi berulangkali pada akson dan glia.Rasio IL-12 dan IFN-gamma dalam darah juga mengalami peningkatan.
Multiple Sclerosis merupakan penyakit yang harus disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari sepanjang hidup si penderita. Jika penderita hanya mengalami sedikit ketidakmampuan fisik, maka gaya hidup penderita dan keluarganya mungkin tidak akan mengalami perubahan. Meskipun demikian, pengetahuan akan penyakit dan implikasi potensialnya dapat menjadi beban yang sangat berat bagi penderita dan keluarga di sekitarnya. Semuanya benar-benar tergantung pada gejala-gejala yang penderita alami dan apa yang penderita rasakan. Gejala-gejala ini dapat terus menerus muncul atau terjadi pada waktu yang berbeda. Tingkat keparahan gejala-gejala tersebut seringkali menentukan sejauh mana MS akan mempengaruhi hidup penderita. Banyak penderita MS mengatakan bahwa mereka harus membuat rencana jauh-jauh hari sebelumnya dibandingkan dengan yang biasa mereka lakukan sebelumnya dan mereka harus mengubah beberapa aktivitas dan jadwal mereka. Sebagai contoh, jika keletihan yang menjadi masalah, maka beberapa periode istirahat yang pendek setiap hari dapat membantu penderita meneruskan pekerjaan rutinnya, tetapi dengan tempo sedikit lebih lambat.
Wanita lebih rentan menderita MS daripada pria, MS 50% lebih sering muncul pada wanita daripada pria (3 berbanding 2). MS adalah penyakit yang terjadi pada dewasa muda. Rata-rata usia terjadinya serangan adalah 22-39 tahun, tetapi jangkauan serangan sebenarnya sangat luas berkisar antara 10-59 tahun.
B. Patofisiologi
Tahapan perkembangan Multiple Sclerosis diawali dengan kerusakan laten pada sawar darah otaksetiap kali terjadi ekstravasasi sel T CD8dan sel T CD4yang diinduksi oleh kemokina CCL2. Kerusakan sawar darah otak juga dapat disebabkan oleh migrasi granulosit.Pemberian antibodi yang menghambat ekspresi pencerap CXCR2 ELR+- pencerap CXCR2 yang mengikat kemokina CXCL1, CXCL2, dan CXCL5 pada otakyang meningkat pada granulosit seiring dengan migrasi. Pada model tikus, terbukti menurunkan infiltrasi granulosit sekaligus sel T memori hingga >95% dan menghentikan kerusakan pada sawar darah otak.Pada infeksi viral, hal ini menyebabkan 100% kematian. Disfungsi sawar darah otak dapat dicegah dengan pemberian natalizumab,yaitu suatu zat yang menghambat alpha(4) integrin, senyawa organik yang diperlukan monosit untuk melakukan adhesi dengan Vascular Cell Adhesion Molecule type 1 (VCAM-1) dan fibronectin containing the CS1 region (FN-CS1) dalam ekstravasasi pada sawar otak untuk dapat bermigrasi ke dalam sistem saraf pusat.
C. Jenis-Jenis Multiple Sclerosis
Perjalanan penyakit MS tidak terduga. Bagi beberapa orang, penyakit ini hanya sedikit mengganggu, sedangkan beberapa yang lain mengalami perburukan yang cepat hingga membuatnya sama sekali tidak berdaya, dan beberapa yang lain berada di antara dua kondisi ekstrim tersebut. Walaupun setiap individu mengalami kombinasi kondisi gejala MS yang berbeda, tetapi ada beberapa macam pola berbeda yang berhubungan dengan jenis penyakit ini:
1. MS Hilang-Timbul
Pada MS jenis ini, terjadi beberapa kali kekambuhan (serangan) yang tidak terduga. Dapat timbul gejala-gejala baru atau terjadi perburukan gejala yang sudah ada. Serangan ini dapat berlangsung dalam waktu yang bervariasi (dalam hitungan hari atau bulan) dan dapat pulih secara sebagian (parsial) atau total. Jenis ini dapat bersifat ‘tidak aktif’ selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
2. MS Jinak
Setelah satu atau dua kali serangan dan kemudian pulih total, MS jenis ini tidak mengalami perburukan dan tidak timbul kecacatan permanen. MS jinak hanya dapat diidentifikasi bila terdapat kecacatan ringan yang timbul pada waktu 10 – 15 tahun setelah serangan dan pada awalnya dapat dikategorikan sebagai MS hilang-timbul. MS jinak cenderung berhubungan dengan gejala-gejala yang tidak parah ketika terjadinya serangan, contohnya pada sistem sensorik.
3. MS Progresif Sekunder
Bagi beberapa orang yang pada awalnya mengalami MS hilang–timbul, dalam perjalanan penyakitnya ada bentuk perkembangan lebih lanjut yang mengarah pada ketidakmampuan yang bersifat progresif, dan seringkali disertai kekambuhan terus menerus.
4. MS Progresif Primer
MS jenis ini ditandai dengan tidak adanya serangan yang parah, tetapi ada serangan-serangan kecil dengan gejala-gejala yang terus memburuk secara nyata. Terjadi satu akumulasi perburukan dan ketidakmampuan yang dapat membawa penderita pada tingkat/ titik yang semakin rendah atau terus berlanjut hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Gb.1. Grafik jenis-jenis Multiple Sclerosis
D. Epidemiologi
Peta dunia yang menunjukkan bahwa risiko terkena MS makin tinggi dengan meningkatnya jarak dari khatulistiwa. Di Eropa utara, Amerika Utara, dan Australasia, sekitar satu dari 1000 warganegara menderita Multiple Sklerosis, sementara di jazirah Arab, Asia, dan Amerika Selatan, persentasenya jauh lebih rendah. Di Afrika sub-Sahara, MS sangat jarang. Dengan beberapa pengecualian, ada gradasi utara-selatan di belahan bumi utara dan gradasi selatan-utara di belahan bumi selatan, dengan MS lebih jarang di sekitar khatulistiwa.
E. Penyebab Multiple Sclerosis
Penyebab MS belum diketahui, tetapi para peneliti di seluruh dunia sedang berusaha mencari jawabannya. Multiple Sclerosis adalah salah satu gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan salah sasaran karena melihat sel-sel tubuh sendiri sebagai benda asing dan menyerangnya. Pada MS, tubuh menyerang myelin yaitu selubung yang melindungi serabut saraf pada sistem saraf pusat. Hasilnya adalah beberapa (multiple) cedera yang menimbulkan bekas luka (sclerosis = pengerasan).
Kerusakan myelin pada MS mungkin terjadi akibat respon abnormal dari sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan organisme berbahaya (bakteri dan virus). Banyak jenis MS yang menunjukkan gejala penyakit ‘kekebalan tubuh’, dimana tubuh menyerang sel-sel dan jaringan-jaringannya sendiri (dalam kasus MS, yang diserang adalah Myelin). Para peneliti tidak mengetahui apa yang memicu sistem kekebalan tubuh tersebut menyerang myelin, tetapi diduga hal tersebut terjadi karena perpaduan beberapa faktor.
Pada MS, kerusakan myelin (demyelinasi) menyebabkan gangguan kemampuan serabut saraf untuk menghantarkan ‘pesan’ ke dan dari otak, yang pada akhirnya menghasilkan berbagai macam gejala MS. Lokasi terjadinya kerusakan myelin (plak atau lesi) tampak sebagai area (parut/ luka) yang mengeras. Pada MS, parut-parut/ luka-luka ini tampak pada otak dan tulang belakang pada waktu dan area yang berbeda.
Satu teori menyebutkan bahwa virus, yang mungkin sudah menetap lama dalam tubuh, mungkin memainkan peranan penting dalam perkembangan penyakit ini dan mungkin mengganggu sistem kekebalan atau secara tidak langsung mengubah proses sistem kekebalan tubuh. Banyak penelitian yang sudah mencoba mengidentifikasi virus MS. Ada satu dugaan bahwa kemungkinan tidak ada virus MS, melainkan hanya ada virus-virus biasa, seperti virus campak dan herpes yang menjadi pemicu timbulnya penyakit MS. Virus-virus ini mengaktifkan sel darah putih (limfosit) dalam aliran darah menuju ke otak dengan melemahkan mekanisme pertahanan otak yaitu darah/ sawar otak. Kemudian, di dalam otak, sel-sel ini mengaktifkan unsur-unsur lain dari sistem kekebalan tubuh dengan kerusakan myelin yaitu selubung pelindung yang mengelilingi serabut saraf pada sistem saraf pusat. Ketika myelin mengalami kerusakan, akan mengganggu penyampaian ‘pesan’ antara otak dan bagian-bagian tubuh lainnya.
Demyelinasi adalah istilah yang dipakai untuk hilang/ rusaknya myelin, yaitu suatu substansi dalam massa putih otak yang melindungi ujung saraf. Myelin membantu saraf menerima dan menginterpretasikan pesan-pesan dari otak dengan kecepatan tinggi. Ketika ujung saraf kehilangan substansi tersebut, maka substansi tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik, menyebabkan timbulnya luka-luka, atau munculnya ‘sclerosis’ di ujung-ujung saraf yang kehilangan myelin. Demyelinasi adalah penyebab dasar dari gejala-gejala yang timbul pada penderita MS. Ketika demyelinasi terjadi, kecepatan ‘lalu-lintas’ pesan pada saraf menjadi lebih lambat daripada biasanya. Bahkan ketika luka-luka yang terjadi akibat demyelinasi sudah sembuh dan mengalami remyelinasi, respon saraf akan cenderung melambat.
Myelin berfungsi mempercepat transfer informasi. Tanpa selubung ini, transmisi informasi saraf dari otak ke seluruh tubuh secara bertahap melambat atau terhambat. Hal ini menyebabkan gangguan saraf motorik dan saraf sensorik.
F. Gejala dan Tanda Multiple Sclerosis
Multiple Sclerosis membuat kondisi hidup sangat bervariasi dan gejala-gejalanya tergantung pada area sistem saraf pusat yang terkena. Tidak ada pola khusus pada MS dan setiap penderita MS memiliki kekhasan gejalanya masing-masing, yang bentuknya bervariasi dari waktu ke waktu dan tingkat keparahan serta lamanya serangan dapat berubah, walaupun pada penderita yang sama.. Bagi sebagian orang, MS menyerang dengan pola hilang-timbul, sedangkan bagi yang lain, MS menyerang dengan pola perburukan yang progresif. Tidak ada MS yang khas. Kebanyakan penderita MS akan mengalami lebih dari satu gejala, walaupun gejala-gejala ini umum terjadi pada banyak orang, tapi tidak seorangpun mempunyai semua gejala tersebut bersamaan. Gejala-gejala yang umum terjadi antara lain sebagai berikut:
1. Visual disturbances (Gangguan Penglihatan)
- Penglihatan kabur
- Penglihatan ganda / berbayang (diplopia)
- Neuritis optika
- Gerakan mata yang tak terkontrol
- Buta total (sangat jarang terjadi)
2. Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi
- Hilang keseimbangan tubuh
- Gemetar (tremor)
- Ketidakstabilan berjalan (ataksia)
- Pusing (vertigo)
- Kekakuan anggota gerak
- Gangguan koordinasi
- Kelemahan terutama dapat mengenai kaki dan kemampuan berjalan
3. Kekakuan
- Mengenai tonus otot dan kekakuan otot dapat mempengaruhi mobilitas dan cara berjalan
- Spasme
4. Perubahan rasa/sensasi
- Perasaan baal
- Perasaan seperti di tusuk-tusuk jarum
- Kebas (paraesthesia) perasaan seperti terbakar
- Nyeri dapat berhubungan dengan penyakit MS, contohnya, nyeri di wajah seperti trigeminal neuralgia, dan nyeri otot
5. Gangguan kemampuan berbicara
- Bicara menjadi lambat
- berbicara seperti menggumam
- perubahan ritme berbicara
- sulit menelan (dysphagia)
6. Keletihan berlebihan
- Perasaan lemah dan letih yang datang tidak terduga dan tidak sebanding dengan aktivitas yang sedang dikerjakan. Keletihan berlebihan adalah gejala penyakit MS yang paling umum dan yang paling menyusahkan.
7. Gangguan kandung kemih dan usus besar
- Gangguan kandung kemih meliputi sering buang air kecil, tidak dapat buang air kecil secara tuntas atau tidak bisa menahan air kecil.
- Gangguan usus meliputi konstipasi/sembelit, dan kadang-kadang diare.
8. Gangguan seksual dan keintiman
- Impoten
- Berkurangnya kemampuan seksual
- Kehilangan gairah
9. Sensitivitas terhadap panas
- Gejala-gejala memburuk dengan udara panas
10. Gangguan kognitif dan emosi
- Kehilangan memori jangka pendek
- Kehilangan kemampuan konsentrasi, penilaian, dan penalaran
Berbeda dengan gejala-gejala yang jelas terlihat dengan segera, gejala lain seperti keletihan (fatigue), perubahan sensasi, gangguan memori, dan konsentrasi sering menjadi gejala yang tersembunyi. Gejala seperti ini mungkin sulit untuk dijelaskan kepada orang lain dan kadang-kadang keluarga dan perawat tidak dapat memahami efeknya terhadap pekerjaan, aktivitas sosial, dan kualitas hidup penderita MS.
Gejala dan tanda-tanda Multiple Sclerosis sangat bervariasi, tergantung pada bagian sistem saraf pusat yang terkena. Setiap penderita mengalami gejala klinis dan perkembangan penyakit yang berbeda-beda. Semua unsur fisik, sensorik, dan motorik mungkin akan terpengaruh pada berbagai derajat. Kebanyakan penderita MS mengalami lebih dari satu gejala.
MS merupakan penyakit yang hilang-timbul, dengan gejala-gejala muncul dalam siklus diselingi masa antara tanpa gejala (asimtomatik). Namun ada juga bentuk MS yang berkembang dengan lambat dan evolutif. Dalam hal ini, kemajuan gejala lambat, tetapi terus-menerus dan tanpa periode asimtomatik. MS adalah penyakit yang sangat tidak menentu dan tak terduga. Seseorang dengan MS dapat kambuh serius dan memburuk sehingga tampaknya harus selalu memakai kursi roda, lalu tiba-tiba membaik dan dapat berjalan lagi. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam kasus tertentu untuk memprediksi perkembangan penyakit tersebut berupa kesembuhan lengkap, kesembuhan sementara atau memburuk, dan lainnya.
G. Perjalanan Penyakit Multiple Sclerosis
Lima tahun pertama biasanya memberikan satu indikasi pada seseorang tentang bagaimana penyakit ini akan berlanjut. Kesimpulan ini didasarkan pada bagaimana perjalanan penyakit dalam kurun waktu tersebut serta didasarkan juga pada apa tipe penyakitnya misalnya hilang-timbul atau progresif. Tingkat ketidakmampuan yang dicapai pada satu titik akhir seperti lima dan sepuluh tahun diyakini dapat memprediksi perjalanan penyakit ini di kemudian hari. Akan tetapi, ada beberapa variabel mengenai hal ini yaitu sebagai berikut:
- Sebagian besar penderita MS (kurang lebih 45%) tidak terlalu terpengaruh oleh penyakit MS-nya, dan dapat menjalani hidup normal serta produktif.
- Ada sekelompok penderita (40%) yang jenis MS-nya berubah menjadi progresif setelah beberapa tahun bersifat hilang-timbul.
Usia saat terjadinya serangan serta gender dapat menjadi indikator jangka panjang perjalanan penyakit MS. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa serangan yang terjadi pada usia lebih muda (dibawah usia 16 tahun) mengimplikasikan prognosis yang lebih baik, tetapi hal ini harus dibatasi oleh kenyataan bahwa seorang dewasa muda yang menjalani hidup sebagai penderita MS selama 20 atau 30 tahun dapat mengalami ketidakmampuan subtansial, walaupun perkembangan menuju ketidakmampuan tersebut berlangsung lambat dan pada 10 atau 15 tahun pertama penderita relatif hanya serangan ringan. Penelitian-penelitian lain menunjukkan bahwa serangan pada usia lanjut (pada lebih dari 55 tahun), terutama pada laki-laki, dapat menunjukkan perjalanan penyakit yang bersifat progresif.
.
H. Diagnosa Multiple Sclerosis
Tidak seperti penyakit yang lain, tidak ada tes yang dapat langsung mendeteksi ‘positif atau negatif’ untuk MS dan tes yang tersedia untuk menolong para dokter dalam mendiagnosis, tidak ada satupun yang dapat 100% meyakinkan diagnosis tersebut. Hal ini berarti pada akhirnya para dokter akan mendiagnosa MS dengan mengombinasikan pengamatan terhadap gejala-gejala yang terjadi pada seseorang dan menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain (diagnosis klinis). Sayangnya bagi sebagian kecil penderita MS (10-15%), diagnosis pasti masih belum mungkin, bahkan setelah menjalani berbagai tes yang tersedia. Akan tetapi, dapat menyingkirkan penyebab yang sangat penting dari gejala-gejala tipe-MS yang lain, dan jika dilanjutkan dengan pemeriksaan berkala dan pengawasan pada perubahan kondisi penderita, maka dalam banyak kasus, diagnosis menjadi hal yang mungkin ditetapkan.
International Medical and Scientific Board (MSIF) telah menyimpulkan sebuah kriteria baru diagnosa MS untuk membantu para dokter dalam membedakan MS dengan penyakit lain yang mungkin memperlihatkan gejala-gejala yang sama. Kriteria baru ini melibatkan hasil pemindaian dengan MRI, sehingga memungkinkan untuk mendiagnosis MS walaupun seseorang hanya memperlihatkan satu episode gejala saja. Dengan kriteria yang baru ini, seseorang dapat diklasifikasikan sebagai penderita MS, mungkin MS, atau bukan MS.
MS pada stadium awal dapat terlihat seperti riwayat penyakit dengan gejala-gejala yang samar, yang mungkin muncul secara sporadis dalam kurun waktu yang lama dan seringkali dihubungkan dengan salah satu kondisi medis yang lain. Gejala-gejala yang tidak terlihat dan bersifat subjektif seringkali sulit untuk dikomunikasikan dengan dokter dan para ahli kesehatan dan sayangnya dalam diagnosis tingkat paling awal, masih merupakan hal yang umum bagi penderita MS untuk diperlakukan dengan tidak simpatik.
Walaupun seseorang menunjukkkan gejala-gejala tipe MS dengan pola yang klasik, gejala-gejala tersebut harus dipastikan sudah memenuhi kriteria sebelum dokter atau spesialis saraf dapat mendiagnosis ‘pasti’ MS secara klinis. Kriteria-kriteria tersebut adalah dua area berbeda di sistem saraf pusat terserang dan serangan-serangan tersebut terjadi setidaknya dalam dua kejadian yang berbeda dan sedikitnya dalam selang waktu satu bulan, dan orang tersebut berada dalam rentang usia normal untuk mendapat serangan MS. Dengan demikian, walaupun bisa saja anda didiagnosis ‘pasti’ MS pada kunjungan pertama anda ke spesialis saraf, masih ada kemungkinan bahwa diagnosis tersebut menjadi tidak jelas, dan bahwa orang tersebut akan dirujuk untuk menjalani serangkaian pemeriksaan lebih lanjut.
I. Manajemen Terapi
Multiple sclerosis sampai saat ini masih belum dapat disembuhkan, tetapi tidak mematikan. Ada pengobatan yang memungkinkan untuk menunda perkembangan penyakit ini dan mengurangi sebaran, intensitas, dan durasi gejala. Suntikan kortikosteroid dapat digunakan untuk keperluan ini. Pengobatan imunosupresif kadang-kadang digunakan tetapi memiliki kekurangan karena sering menimbulkan efek samping. Pengobatan MS dilakukan secara multidisiplin yang melibatkan setidaknya satu ahli saraf dan seorang dokter rehabilitas.
Obat-obatan seperti interferon beta adalah pengobatan yang mungkin dilakukan untuk penderita MS hilang-timbul dan penderita yang masih dapat berjalan. Interferon beta dapat memperlambat progresifitas ketidakmampuan dan juga mengurangi tingkat keparahan dan frekuensi perburukan. Pada taraf ini, tidak diketahui apakah interferon beta berdampak pada MS progresif primer atau tidak. Penelitian yang luas tentang MS sekarang ini memberikan harapan bahwa terapi yang bersifat melawan proses penyakit MS (walaupun tidak menyembuhkan), dalam waktu dekat, tidak lagi menjadi suatu harapan yang mustahil. Harus diingat bahwa banyak penderita MS yang menjalani hidup dengan ketidakmampuan dalam mengatur diri (misalnya, keletihan berlebihan, pincang, gangguan kandung kemih). Bagaimanapun, sedikitnya 15% dari penderita MS akan menjadi cacat (misalnya harus menggunakan kursi roda setiap waktu). Harapan hidup bagi sebagian besar penderita MS adalah mendekati normal.
Adapun terapi non farmakologi yang bisa dilakukan, antara lain:
1. Fisioterapi dan olahraga
Fisioterapi dan olahraga yang teratur dapat membantu menjaga kebugaran seoptimal mungkin. Pasien MS dan dokter mungkin dapat mendiskusikan terapi atau program olahraga apa yang baik. Mungkin saja dengan menjalani fisioterapi dengan cukup teratur atau melakukan olahraga yang khusus di rumah. Banyak orang merasa bahwa berenang, yoga, dan berkuda akan membantu. Semua olahraga yang dapat penderita nikmati dan membuatnya nyaman akan berguna. Selain menjaga kebugaran otot, olahraga juga dapat menjadi jalan yang baik untuk melepaskan ketegangan dan memberi ketenangan.
2. Diet
Selama bertahun-tahun, telah diajukan sejumlah diet untuk MS, yang mungkin hanya untuk penyakit yang tidak diketahui penyebabnya atau tidak ada obatnya. Lain dengan diet-diet yang disarankan dan masing-masing bersifat kontradikitif, akan lebih masuk akal jika penderita melakukan diet dengan nutrisi seimbang yang akan memastikan penderita mendapat semua vitamin dan mineral yang dibutuhkan. Beberapa orang merasa bahwa diet rendah lemak hewani dan tinggi lemak tak jenuh sangat menolong mereka.
3. Perencanaan Kerja
Seiring dengan waktu, MS dapat menyebabkan ketidakmampuan fisik dan kognitif, maka wajar jika penderita mengevaluasi kondisi pekerjaannya secara realistis berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan. Jika pekerjaan sangat menuntut kekuatan fisik, ada baiknya mempertimbangkan alternatif pekerjaan lain atau berusaha mengurangi kegiatan fisik dari pekerjaan. Untuk pekerjaan lain yang bersifat duduk terus menerus, keterbatasan fisik mungkin tidak akan membawa dampak yang besar dan penderita mungkin dapat tetap bekerja selama bertahun-tahun ke depan.
4. Perubahan dalam Keluarga
Salah satu masalah yang sangat sulit diatasi bagi pasangan suami istri setelah terdiagnosa MS adalah kemungkinan adanya perubahan dalam peranan mereka masing-masing. Di masa depan, kemungkinan-kemungkinan tersebut harus dilihat secara bersama-sama. Sebuah keluarga yang memiliki pendapatan dari dua sumber mungkin harus belajar untuk hidup hanya dengan satu sumber penghasilan. Salah seorang dari pasangan tersebut mungkin harus mengambil tanggung jawab tambahan untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak. Diskusi yang lengkap dan terbuka adalah kunci sukses untuk mengatasi perubahan-perubahan penting seperti ini.
J. Kesimpulan
Meski begitu ada beberapa fakta yang muncul seputar penyakit multiple sclerosis yang diungkapkan oleh Peter Behan, profesor neurologi dari University of Glasgow dan Simone Hutchinson, asisten peneliti dari Glasgow Caledonian University, seperti dikutip dari Telegraph, yaitu:
- Penyakit ini lebih menonjol terjadi pada belahan bumi utara dengan daerah berisiko tinggi seperti Skotlandia dan daerah berisiko rendah seperti Afrika Selatan.
- Penyakit ini bisa terjadi pada banyak ras, tapi tidak ditemukan pada ras American Indian, Aborigin Australia, dan Maoris.
- Kemungkinan mengembangkan Multiple Sclerosis meningkat secara signifikan jika ada anggota keluarga satu tingkat yang memiliki penyakit tersebut.
- Sampai saat ini belum ada obat atau penanganan yang dinilai lebih efektif dibandingkan dengan plasebo, sehingga dukungan dari keluarga atau support grup bisa sangat membantu pasien.
- Tidak ada gejala Multiple Sclerosis yang khas. Sebagian besar penderita akan mengalami lebih dari satu gejala, dan gejala yang timbul bervariasi tergantung pada sistem saraf bagian mana yang kena.
- Penyakit Multiple Sclerosis bukanlah penyakit menular
- Tidak mudah untuk mendeteksi Multiple Sclerosis, tapi ada beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan dalam menentukan diagnosis seperti MRI otak dan medulla spinalis, pemeriksaan elektrofisiologis untuk mengetahui perjalanan dari sinyal saraf serta pengambilan cairan tulang belakang.
DAFTAR PUSTAKA
“Multiple sclerosis”. Department of Clinical Neurosciences, University of Cambridge Clinical School; Compston A, ColesA. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18970977. Diakses pada 8 Mei 2010. Lancet 2008
“Multiple sclerosis”. Neurology Unit, University of Cambridge Clinical School; Compston A, Coles A.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11955556. Diakses pada 8 Mei 2010. Lancet 2002
“Complex I deficiency in Persian multiple sclerosis patients”. Institute of Biochemistry and Biophysics, University of Tehran; Kumleh HH, Riazi GH, Houshmand M, Sanati MH, Gharagozli K, Shafa M.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16413582. Diakses pada 20 November 2010.
“Neuronal and BBB damage induced by sera from patients with secondary progressive multiple sclerosis.”. Dipartimento di Studi Giuridici, Economici, Biomedici, Psicosociopedagogici delle Scienze Motorie e Sportive, Università degli Studi di Palermo; Proia P, Schiera G, Salemi G, Ragonese P, Savettieri G, Di Liegro I.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19885613. Diakses pada 9 Mei 2010.