Seorang Ibu

Ibu adalah pemimpin dalam rumah tangga, seorang pemimpin bagi anak-anaknya. Kewajiban utama seorang ibu adalah berada di rumah, mengawasi, mengajari, dan mendidik anak-anaknya dengan tidak menutup adanya peran seorang ayah disini jadi walau bagaimanapun ayah tak bisa lepas tangan dengan menyerahkan semua peran ke ibu. Seumpama seorang ibu harus berkerja untuk membantu ekonomi keluarga, sudah menjadi tuntutan si ibu harus berkerja atau karena alas an yang lain sehingga ibu harus berada di luar rumah, tetaplah seorang ibu harus menyeimbangkan antara perannya di rumah maupun kerjaannya di luar rumah.

Ketika ibu memilih untuk bekerja di luar rumah, bukan bearti ibu berlepas tangan akan kewajibannya terhadap rumah, suami, dan anak-anaknya. Tidak berarti semua tanggungjawabnya diberikan kepada pembantunya. Seorang ibu haruslah menyadari seorang pembantu hanya bertugas membantu pekerjaan yang belum sempat ibu lakukan saat ibu, bukan menggantikan semua peran ibu di rumah. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi ketimpangan dalam rumah tangga ketika ibu terkondisi harus berkerja dan berada di luar rumah.

Di sinilah di butuhkan pengertian seorang suami untuk mau berbagi tanggungjawab dengan istri, bersama-sama saling membantu, dan mensupport satu sama lain, jangan sampai ada pikiran bahwa rumah dan anak-anak adalah semuanya tugas ibu, karena ibu juga seorang manusia biasa, tak lepas dari kekurangan dan keterbatasan. Seorang suami tak perlu sungkan-sungkan membantu tugas istri bila suami melihat istri betul-betul kewalahan dalam mengurusi semuanya dan istri juga harus ingat bahwa dia harus betul-betul berusaha semaksimal mungkin menyeimbangkan semuanya dan tidak menganggap enteng perannya.

Anak-anak yang baik dan tangguh didukung oleh seorang ibu yang baik dan tangguh pula. Sehingga sebagai seorang pemimpin, seorang ibu haruslah bisa bersikap lebih baik dan lebih bijaksana dalam menghadapi semua anak-anaknya, antara lain:

  1. Berilah anak pujian dan penghargaan yang jujur ketika si anak melakukan sebuah kebaikan.
  2. Beritahu kesalahan anak dengan baik dan santun serta tegas bila si anak melakukan sebuah kesalahan.
  3. Bicarakan kesalahan anak di hadapannya dengan cara yang santun agar dia mengerti bahwa perbuatan yang telah dia lakukan adalah salah dan jangan sampai diulangi kembali. Doronglah agar anak mau memperbaiki kesalahannya.
  4. Pujilah peningkatan yang dilakukan si anak sekecil apapun dan dalam hal apapun. Sebagai seorang ibu jangan pelit dalam memberi pujian kepada anak. Ekspresikan rasa suka cita kita atas apa yang dilakukan anak.
  5. Buatlah anak senang melakukan perkerjaan yang ibu sarankan, jangan sampai anak melakukan perkerjaan itu karena rasa takut tapi karena si anak betul-betul menyukainya. 

Semoga bermanfaat

2 Responses to “Seorang Ibu”

  1. tri diana Says:

    tapi bagaimana kalo seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya dan perhatiannya lewat cara yang salah??
    saya mengetahui benar kalau ibu sangat menyayangi semua anaknya, tapi dengan cara dia menyampaikan kurang pas atau bisa dikatakan “galak” bagaimana qt sebagai seorang anak menyikapinya??

    • elfrieda Says:

      Saya punya seorang ibu, yang bisa dikatakan didikannya keras. Herannya kalo sama kakak tertua saya, yang laki maupun yang perempuan didikannya nggak keras2 amat, bisa dibilang dimanjalah. Dulu pas awal2, saya sempet sebel juga dan merasa dianaktirikan. Apa2 harus saya yang kerjakan, apa2 harus saya yang pegang tanggungjawab, walaupun di rumah memang ada pembantu yang bantu2. Jadi yang sibuk, yaa saya ama pembantu. Dulu saya menyikapinya, dengan lebih “mengikhlaskan hati”, nggak terlalu banyak menuntut…Walaupun saya masih SD, waktu itu saya berpikir positif aja, yaa namanya orangtua punya berbagai keterbatasan juga. yaa walaupun di hati mereka sayang semua pada anak2nya tapi kadang2 tanpa disadari ato tidak, mereka melakukan tindakan yang nggak adil terhadap anak2nya.

      Untungnya, keluarga saya termasuk tipe keluarga yang terbuka dan bisa dibilang demokrasi. Mama dan papa saya biasa ngajak anak2nya diskusi untuk memutuskan apa2 misalnya orangtua ingin beli mobil dll. Anak bisa mengungkapkan apa saja unek2nya asal dengan cara yang baik dan anak bisa ngomong apa aja yang dia suka ato tidak suka dari orangtuanya. Yaa, waktu itu saya bilang aja ke mama saya,”koq apa2 harus saya?”

      Setelah saya gede, saya bersyukur dengan didikan mama saya dulu. Saya lebih mandiri daripada saudara2 saya yang lain. Saya lebih bisa memutuskan apa2nya sendiri tanpa harus tanya ini itu sama orangtua. Tapi tetep saya sadari, didikan orangtua saya yang membeda-bedakan pola didikannya terhadap anak2nya adalah salah. Makanya setelah saya menikah, saya berkeinginan mendidik anak2 saya dengan pola yang sama. Walaupun satu anak ada yang gak mampu melakukan suatu hal, tetap harus diajarkan ank tsb “menjadi mampu melakukan hal tsb” sama seperti saudaranya yang lain. Dalam perlakuan juga harus sama, sungguh akan terasa gak enak di hati anak bila dibeda2kan dengan saudaranya yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: